Down for life menyebut “Kalatidha” sebagai perjalanan spiritual yang tidak hanya tentang musik, tapi juga kehidupan sebagai manusia.
Mereka memaknai budaya dan spiritual Jawa tentang periode waktu kehidupan, era di mana tatanan budi pekerti, etika dan moral tidak lagi dianggap penting. Hal baik-buruk, benar-salah, semua dikesampingkan atas dasar nafsu keserakahan dan kekuasaan duniawi. Diambil dari “Serat Jangka Jayabaya” yang ditulis ulang oleh Ranggawarsita.
Proses peracikan “Kalatidha” adalah sebuah perjalanan panjang, dan tentunya sangat personal. Melalui album ini, para personel band asal Solo, Jawa Tengah ini menyampaikan kepada MUSIKERAS bahwa keadaan kehidupan ini tidak baik-baik saja.
Bahkan kini sudah mencapai krisis di ambang kiamat. Dari segi moral, etika, budi bekerti maupun secara ekonomi, politik, iklim dan aspek lainnya.
Bagi down for life yang digerakkan secara kolektif oleh vokalis Stephanus Adjie, gitaris Rio Baskara dan Isa Mahendrajati, bassis Ahmad Ashar “Jojo” Hanafi dan Mattheus Aditirtono (bass), dramer Muhammad Abdul Latief serta Adria Sarvianto dan Muhammad Firman “Bolie” Prasetyo (sequencer), kini sudah saatnya bersikap, bersuara dan bergerak sesuai kapasitas dan kemampuan masing-masing.
“Mungkin tidak bisa mencegah tapi setidaknya memperlambat. Sekecil apa pun perlawanan tetaplah perlawanan,” seru Stephanus Adjie, mewakili bandnya.
Menurutnya, tidak ada kewajiban kepada siapa pun untuk mendengarkan album “Kalatidha” ini. Karena hidup adalah pilihan. “Tapi tidak mendengarkannya adalah sebuah kerugian.. hahaha. Seberuntungnya manusia adalah mereka yang ‘eling lan waspada’!”
Sementara secara musikalitas, album “Kalatidha” disebut Adjie merupakan pencapaian terbaik yang bisa dilakukan down for life untuk saat ini. Membuatnya menjadi salah satu album metal paling penting di 2025 ini.
Pengerjaannya pun berbeda dibanding album-album down for life sebelumnya. Sebagian besar lagu di album tersebut, kecuali “Apokaliptika” dan “Sambernyawa”, direkam tanpa sebelumnya dimainkan di latihan dan panggung.
Proses kreatif bergulir tanpa perlakuan jamming di studio lantaran para personelnya tersebar berjauhan di beberapa kota.
“Kami berusaha bermain jujur dengan menghasilkan musik yang lebih berat, gelap dan kencang, sesuai yang kami rasakan. Eksplorasi sesuai kemampuan yang kami miliki,” cetus Adjie lagi.

Sesi rekaman di beberapa studio di beberapa kota lantas menjadi upaya mencari hasil yang maksimal. Sebagian besar materi lagu direkam di Studio Darktones, Jakarta Timur, di bawah arahan produser ganda Adria Sarvianto – yang juga mengerjakan mixing di Studio Darling di Jakarta – dan Stephanus Adjie.
Sebagian lagi dikerjakan di Studio Kua Etnika Yogyakarta, Studio Krisna Siregar Music dan Studio Nocturnal Blazze di Jakarta Selatan, dan Studio Winsome di Solo.
Lalu untuk memaksimalkan daya terjang audionya, pemolesan mastering dipercayakan kepada Gene Freeman alias Machine The Producer di Austin Texas, Amerika Serikat. Machine sendiri sebelumnya dikenal sebagai produser metal yang pernah menggarap album milik Lamb Of God, Clutch, hingga Suicide Silence.
Sementara untuk ilustrasi album dikerjakan oleh Akmal Abdurrahman (yang juga menggarap ilustrasi tshirt terbaru MUSIKERAS) dan Ardha Lepa dengan desain grafis oleh Jahlo Gomes.
“Ini berkat dukungan maksimal dari (label) Blackandje Records. Semuanya butuh pengorbanan termasuk uang kas band. Apalagi untuk band kecil seperti kami, berat tapi tantangan harus ditaklukkan!”
“Kalatidha” sendiri merupakan album terbaru down for life yang diluncurkan berselang delapan tahun setelah melepas album mini (EP) “Menantang Langit” (demajors, 2017), kelanjutan dari dua album penuh sebelumnya, “Himne Perang Akhir Pekan” (Sepsis Records/ demajors, 2013) dan “Simponi Kebisingan Babi Neraka” (Belukar Records, 2008).
Keseluruhan materi di “Kalatidha” digarap selama enam tahun dengan segala tantangan serta keterbatasan. Melewati masa pandemi, rutinitas kehidupan dan jeda jadwal panggung yang cukup padat, yang akhirnya menghasilkan 10 komposisi musik yang keras, berat dan gelap.
“Kalatidha” merekam dengan jelas jejak spiritual terbaru dari 25 tahun perjalanan down for life. Perjalanan yang membawa mereka kembali ke akar untuk membumi, sekaligus di saat yang bersamaan mengangkasa melepas kepal perlawanan penuh api.
“Kalatidha” yang dipersembahkan oleh Blackandje Records, akan dirilis resmi mulai 31 Mei 2025 dalam format CD dan piringan vinyl dengan pilihan plat berwarna hitam dan red marble. (mdy/MK01)
Susunan lagu dalam album “Kalatidha”:
- Buko Gunungan (intro) oleh Ari Wvlv dan Gayam 16
- Kalatidha (dibantu oleh Eko Warsito)
- Mantra Bentala
- Children of Eden
- Apokaliptika
- The Betrayal (dibantu oleh Bernice Nikki)
- Prahara Jenggala
- Sangkakala I
- Sangkakala II
- Sambernyawa (dibantu oleh Ultras 1923)