CLOUDCRY: Tajamkan Keagresifan di “Holy Grail”, yang Emosional

Lagu terbaru, atau rilisan tunggal ketiga Cloudcry telah dirilis, yang merupakan teriakan sunyi para penyintas pelecehan seksual.
cloudcry

Cloudcry luncurkan lagu baru berdurasi empat menit yang tidak hanya menunjukan kemarahan dari segi aransemen musiknya yang keras dan intens, tetapi juga dari penulisan liriknya. Sebuah pesan sosial yang mendalam.

“Holy Grail”, judul lagu rilisan tunggal terbaru dari unit rock/metal modern asal Surakarta, Jawa Tengah ini merupakan bentuk ekspresi kemarahan.

Suara yang mewakili para perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual. Suara yang selama ini kerap dibungkam oleh rasa takut dan ketidakadilan sistemik.

Lagunya sendiri ditulis oleh vokalis Junior Putra Kurniawan (Juno), yang lahir dari keresahan terhadap rentetan kejadian nyata di sekitar sang penulis, serta berita-berita memilukan tentang kekerasan seksual.

“Holy Grail” mencoba menyuarakan emosi yang tertahan, mengangkat kesadaran publik, dan menjadi pengingat bahwa korban tidak sendirian, serta penting bagi kita untuk hadir serta merangkul para penyintas.

“(Kami) Mencoba menyuarakan emosi dari sudut pandang korban dengan cara yang jujur dan tanpa filter,” seru Juno, diungkapkan kepada MUSIKERAS.

Lalu untuk menegaskan pesan yang terkandung di lagu itu, Juno bersama gitaris Anan Rendy Christian dan dramer Handityo Rikad Andrajadi (Handit) juga menyuguhkan konsep video musik untuk “Holy Grail”.

Visualisasinya, menggambarkan sosok wanita (Artemis) dalam mitologi Yunani sebagai pelindung wanita, yang menari dengan elegan namun diliputi kesedihan dan kemarahan tersembunyi. Ia tidak bisa menyuarakan jeritannya karena dunia di luar sana bisa saja balik menyerangnya.

“Visual ini memperkuat narasi lagu bahwa ada kekuatan dalam kesunyian,” cetus pihak Cloudcry menambahkan.

Proses kreatif penggarapan “Holy Grail” sendiri disebut para personel Cloudcry sebagai salah satu momen yang paling personal buat mereka. Karena hampir semua bagian lagu tersebut mereka kerjakan sendiri.

Mulai dari penulisan lirik, aransemen, sampai proses rekaman yang dilakukan di studio rumahan mereka di Solo. “Secara keseluruhan, prosesnya berjalan sekitar tiga minggu. Cukup padat, tapi juga penuh makna.”

Tapi khusus untuk mixing dan mastering, Cloudcry justru menyerahkannya kepada orang lain. Tepatnya kepada Pras Goldinantara (510), karena mereka merasa, butuh sudut pandang luar yang segar.

“Beliau berhasil menerjemahkan energi mentah yang kami bawa ke dalam bentuk audio yang lebih solid dan siap rilis, juga nyaman dan maksimal saat didengarkan di berbagai platform digital.”

cloudcry

Benang Merah

Dari sisi musikal, Cloudcry menajamkan formula mereka, dimana karakteristik rock modern dikombinasikan dengan elemen post-hardcore dan electronic.

Dari racikan itu, mereka menghasilkan sound yang agresif namun tetap atmosferik dan emosional. “‘Holy Grail’ adalah contoh paling representatif dari pendekatan tersebut!”

Ada beberapa band mancanegara yang memberi inspirasi dalam proses pembentukan karakter musik Cloudcry. Di antaranya datang dari band-band seperti Architects, Landmvrks, Bring Me The Horizon hingga Bad Omens. Khususnya dalam pendekatan soundscape dan dinamika.

“Tapi pada saat yang sama, kami juga menyisipkan elemen eksperimental yang berasal dari inspirasi kami sendiri terhadap musik elektronik dan ambient, yang kemudian disatukan dalam bentuk modern rock yang tetap relatable.”

Meski punya referensi, Cloudcry menegaskan mereka selalu berusaha tidak melakukan ‘salin-tempel’ dari band-band tersebut. “Justru kami menjadikan mereka sebagai inspirasi untuk membentuk identitas musik kami sendiri.”

Di sisi lain, dengan cara itu Cloudcry juga merasa bisa tampil berbeda dibanding band-band rock modern umumnya. Dan yang menjadi ciri khas, adalah cara mereka merespon realitas lewat musik.

“Kami tidak berangkat dari tema-tema yang terlalu jauh atau imajinatif—kami lebih memilih untuk membahas isu-isu nyata yang sering kali terabaikan, dan itu kami bungkus dalam musikalitas yang intens dan visual yang kuat.”

“Kami juga mencoba membangun pengalaman yang sinematik dan immersif, bukan hanya sekadar lagu,” urai pihak band, meyakinkan.

Usai “Holy Grail”, Cloudcry telah merencanakan bakal merilis beberapa karya baru, yang akan mengarah ke peluncuran album mini (EP) pertama mereka.

“Saat ini proses penulisan dan produksi masih terus berjalan, dan beberapa materi bahkan sudah memasuki tahap pre-mix.”

Mereka ingin, setiap rilisan mempunyai benang merah, baik secara tematik maupun atmosfer. Jadi bukan sekadar mengumpulkan lagu, tapi menyusun narasi emosional yang berkelanjutan.

“Targetnya, EP ini akan menjadi refleksi dari berbagai sisi emosional, termasuk kesedihan, kemarahan, ketidakberdayaan, harapan, hingga perjuangan.”

Sejak 13 Juni 2025 lalu, “Holy Grail” sudah tersedia di berbagai gerai digital streaming. Saksikan juga video musiknya via tautan kanal YouTube ini. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts