No Remain melanjutkan lembaran baru bareng Latisha Adjani, vokalis yang berasal dari Jakarta, yang datang membawa karakter vokal yang sarat distorsi, mentah, dan tanpa kompromi.
Dengan amunisi itu, No Remain yang juga digerakkan gitaris Aditya Budi Saputra (Blak) dan Mizan Muhamad Andal (Andal), bassis Lancaster Januario Siregar serta dramer Tandu Arta Wiguna melampiaskan karya rilisan lepas pertamanya bersama Latisha, bertajuk “Cognitive Dissonance Prevails” pada 1 Agustus 2025 lalu.
Selanjutnya, mereka terus berkembang. Lebih bising, lebih berat, lebih dingin dan lebih kejam dibanding sebelumnya, yang dibuktikan lewat maxi-single terbaru, “Rats & Pigs”.
Vokal Latisha yang kasar dan terdistorsi menyuntikkan tenaga baru bagi band hardcore asal Tangerang Selatan ini.
Mengubah rasa sakit jadi amarah, yang dipertajam oleh dentuman tanpa henti dari Tandu di dram, betotan bass keras yang jadi tulang punggung dari Lancaster, serta semburan permainan gitar Blak dan Andal yang padat, groovy dan agresif, membuat musik No Remain terus bergerak ke arah yang lebih menghantam.
“Pokoknya, kami nggak mau ngerilis sesuatu yang setengah-setengah. Karena buat kami, ‘Rats & Pigs’ bukan cuma lagu, tapi bentuk resistensi. Pesannya harus kedengaran, sekeras-kerasnya,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS, menegaskan.
Bersama Latisha, band bentukan 2009 lalu ini juga sekaligus mempertahankan formasi band dengan vokalis wanita, yang kebetulan saat ini juga tengah marak bermunculan.
Karena di sisi lain, No Remain melihat fenomena semakin banyak perempuan di band beraliran keras sebagai sesuatu yang positif. Bukan karena ingin menonjolkan sisi gender, tapi karena menunjukkan bahwa ruang berekspresi semakin terbuka.
“Musik keras memberi tempat bagi siapa pun yang ingin menyuarakan emosi dan pandangan hidupnya secara jujur. Jadi ketika perempuan ada di situ, itu bukan soal representasi, tapi tentang kebebasan berekspresi yang setara dan autentik,” cerus mereka diplomatis.
Hardcore Mixtape
Proses penggarapan produksi “Rats & Pigs” sebenarnya lumayan cepat, tapi intens. Kira-kira membutuhkan waktu hampir dua bulan. Kebetulan, para personel No Remain memang sering mengumpulkan komposisi instrumental lebih dulu sebagai stok.
Tapi dalam urusan inspirasi musik, mereka tidak pernah mau milih-milih. Mereka mendengarkan band-band gaya lama dari era 80 dan 90-an yang berkarakter sound cepat dan mentah, hingga ke band hardcore modern yang sarat breakdown super berat.
“Nah, sound kami itu hasil campuran dari semua itu. Kami ambil energi cepat dari yang jadul, terus kami kasih bobot sound dari yang modern. Makanya, kami rasa sound kami di ‘Rats & Pigs‘ ini punya warna yang agak beda dan jadi identitas kami sendiri. Scene hardcore itu luas banget, jadi kami sikat semua!”
Makanya, dalam menjalani prosesnya, No Remain menghindari fokus ke satu band saja sebagai referensi. Tapi lebih seperti membuat sebuah mixtape dari seluruh era hardcore.
“Dan jika diperhatiin lebih detail, ‘Rats’ lebih ke vibe modern, sedangkan ‘Pigs’ lebih ke old-school. Intinya, kami suka banget mencampur banyak band hardcore dari berbagai macam era. Dengan cara ini, kami bisa mengambil yang terbaik dari old-school dan modern.”
Mereka juga ingin agar sound keseluruhan benar-benar punya kekuatan yang lebih gila dibanding rilisan sebelumnya.
“Semua proses mixing dan mastering kami dorong sampai mentok biar hasilnya benar-benar nyentak!”

Soundtrack Demo
Lirik “Rats & Pigs” menyalurkan kemarahan para personel No Remain terhadap praktek korupsi, hukum palsu dan sistem gagal yang menindas, membungkam, serta tindak kekerasan terhadap rakyatnya sendiri.
Di lagu “Rats”, dipresentasikan sebagai serangan langsung terhadap para elit serakah yang mencuri, berbohong dan membangun kekuasaan di atas penderitaan rakyat. Mereka memutar hukum, menipu rakyat dan membangun tahta mereka di atas penderitaan rakyatnya sendiri.
Sementara di “Pigs”, No Remain menyoroti para penegak dari sistem gagal yang sama, mereka yang memakai lencana tapi mengabdi pada kekerasan, bukan keadilan.
Lagu tersebut adalah membentuk protes terhadap brutalitas, suara bagi mereka yang dibungkam oleh penindasan dan ketakutan, ditangkap dan ditindas oleh aparat yang seharusnya melindungi rakyat serta dilakukan atas nama hukum.
“Kebetulan banget waktu demo besar Agustus kemarin di Indonesia, kami udah punya ‘soundtrack’-nya, dan sudah selesai rekaman semuanya. Pas banget Latisha udah bikin lirik yang bahas tentang korupsi dan tindak kriminal aparat yang berwenang. Liriknya Latisha jleb banget. Sedih, bikin lagu tentang itu, eh langsung relate banget.”
Unek-unek penuh kemarahan itu, lantas dipertajam dengan penggarapan visualisasi video musik yang digarap oleh Puja Yudhistira. Digambarkan melalui visual penuh simbol: tikus-tikus memakan uang, dan wajah-wajah kekuasaan yang membusuk serta singgasana dari tulang-tulang rakyat, yang diilustrasikan oleh sang vokalis.
Sebelum “Cognitive Dissonance Prevails” serta “Pigs & Rats”, No Remain tercatat telah meluncurkan sebuah album mini (EP) berjudul “Reminiscence” pada 18 Juli 2025 lalu, saat masih diperkuat vokalis sebelumnya.
Rencana No Remain berikutnya, adalah merilis album penuh berisi minimal 10 lagu. Mereka menargetkan perilisannya pada awal atau pertengahan 2026 mendatang.
Sejauh ini, progres penggarapan albumnya sudah sangat lumayan Mereka sudah mengoleksi belasan stok instrumental yang siap dikemas menjadi lagu utuh.
“Bahkan artwork-nya sudah dibuat oleh Latisha. Sekarang tinggal sortir, dirapikan kembali, lalu ngebut bikin lirik dan langsung take vokal. Dan pastinya, lagu ‘Cognitive Dissonance Prevails’, ‘Rats’ dan ‘Pigs’ akan masuk ke dalam album itu.” (mdy/MK01)