Riotninetynine yang berasal dari Singaraja, Bali mengulas tentang hati yang kosong, yang menggiring manusia itu ke kegelapan di karya demo “Greed Is Death”.
Semua terasa kurang dan mengambil hak orang lain demi keserakahan itu. Jiwa yang gelap membuat mata tertutup demi apa pun yang ia inginkan.
Vokalis Komang Subratha, gitaris Komang Sahadewa, bassis Kadek Nakula dan dramer Prayudi Vigraha sendiri memulai penulisan dan peracikan tiga lagu di demo tersebut, yakni “Darkness Is Coming”, “Greed Is Death” dan “Human Destruction” dari eksplorasi ide dan emosi.
Biasanya, menurut uraian mereka kepada MUSIKERAS, dimulai dengan berdiskusi terlebih dahulu tentang konsep lagu, pesan apa yang ingin disampaikan, serta nuansa musik yang ingin dibangun.
“Dari situ, setiap lagu dikembangkan secara bertahap, mulai dari penulisan lirik, pembuatan aransemen, hingga penentuan sound yang paling tepat.”
Saat masuk ke tahap rekaman, mereka menyebut prosesnya cukup dinamis. Banyak proses eksperimentasi dengan berbagai pendekatan, baik dari segi tempo, warna suara, maupun teknik pengambilan vokal dan instrumen.
“Tidak jarang kami melakukan take berulang kali sampai mendapatkan feel yang benar-benar sesuai dengan karakter lagu. Masukan dari produser dan sesama personel juga sangat berpengaruh, karena sering kali ide-ide spontan di studio justru memperkaya hasil akhir,” seru mereka meyakinkan.
Secara keseluruhan, proses kreatif tersebut menjadi pengalaman yang sangat kolaboratif dan reflektif bagi para personel Riotninetynine.
Selain fokus pada teknis, mereka juga berusaha menjaga suasana kerja yang nyaman agar emosi dan kejujuran dalam bermusik bisa terekam dengan maksimal di demo “Greed Is Death”.

Tajam, Intens
Eksperimen yang dilakukan Riotninetynine kali ini, memadukan materi heavy hardcore dengan tambahan riff-riff death metal yang menghasilkan suasana yang mencekam dan gelap.
“Secara musikal, konsep hardcore yang kami terapkan di ‘Greed Is Death’ berangkat dari akar hardcore yang agresif, mencekam dan penuh energi, namun kami padukan dengan pendekatan yang lebih modern dan kontekstual.”
Terapannya, dengan memainkan riff-riff metal yang tajam, tempo yang intens serta permainan dram yang konfrontatif. Itu fondasi utamanya.
“Tapi kami juga memberi ruang pada dinamika, penekanan breakdown yang lebih emosional agar pesan lagu bisa tersampaikan dengan kuat,” seru mereka.
Lalu dalam penyusunan komposisi aransemen, mereka juga tidak terlalu banyak mengambil atau menjadikan referensi musik dari band tertentu sebagai acuan dalam pembuatan demo tersebut.
Walau tak mereka pungkiri, masing-masing personel ingin sound, tempo dan riff-riff yang mirip seperti band-band yang mempengaruhi mereka.
“Kami ingin di pembuatan kali ini murni komposisi-komposisi dihasilkan sendiri, yang telah kami buat dan rundingkan agar menjadi sesuatu yang berbeda kali ini.”
Solo, Semarang
Formula itu, sekaligus membuat Riotninetynine berbeda dibanding band-band dengan paham hardcore sejenis. Cara mereka mengolah hardcore bukan hanya sebagai musik yang keras, tapi juga sebagai medium narasi dan kritik.
“Kami membangun struktur lagu, layering sound dan pemilihan tone agar tidak terdengar generik. Selain itu, karakter vokal dan lirik yang lugas serta relevan dengan realitas sosial menjadi identitas kami sendiri.”
Bagi mereka, “Greed Is Death” bukan sekadar deretan lagu yang brutal, tapi sebuah pernyataan sikap.
“Keunikan kami terletak pada keseimbangan antara energi mentah hardcore dan eksplorasi musikal yang lebih berani, tanpa meninggalkan akar dan semangat DIY (do it yourself) yang menjadi ruh utama hardcore itu sendiri.”
“Greed Is Death” menjadi momentum pijakan Riotninetynine untuk mewujudkan sejumlah target dan rencana. Di antaranya rencana membuat merchandise dan rilisan fisik, serta menjalani tur mini.
Sejauh ini, band ini telah dijadwalkan menggelar konser di Solo dan Semarang pada 31 Januari dan 1 Februari 2026 mendatang. Lalu juga ada target untuk melanjutkan eksekusi penggarapan album mini (EP) pada pertengahan tahun ini.
Sejak 19 Desember 2025 lalu, demo “Greed Is Death” yang menghadirkan vokal Ara Lizziee sudah tersedia di berbagai gerai musik digital – termasuk di kanal Bandcamp – via Pleasure Records. (mdy/MK01)