Rumah Tua memberi judul album debutnya, “Merayakan Hari Akhir”, dimana mereka menyajikan perjalanan emosional yang dimulai dari fase kelahiran, melewati resahnya kehidupan, hingga mencapai pernyataan tegas tentang arti perlawanan.
Karya rekaman album yang memuat delapan lagu tersebut ditumpahkan lewat narasi yang dirangkai secara berurutan. Band ini memperlihatkan bagaimana mereka mengolah pengalaman sehari-hari menjadi cerita musikal yang padat dan terstruktur.
“Album ini kami susun seperti perjalanan yang kami alami sendiri,” cetus Rumah Tua, meyakinkan tentang tuturan lirik-lirik lagunya.
Album dibuka dengan “Kata Pengantar”, sebuah nomor yang berfungsi sebagai pintu masuk menuju keseluruhan cerita. Di sini, Rumah Tua memperkenalkan suasana awal: ruang kelahiran yang tidak steril, dipenuhi keributan batin serta pencarian arah.
Dari sana, trek “Perjamuan” memperluas tema dengan menghadirkan gagasan rumah pertemuan—sebuah tempat simbolis dimana siapapun dapat datang, duduk, dan mengambil bagian dalam perjalanan.
Lagu ini menjadi konteks bagi ide jamuan: ruang untuk berbagi, mendengar, dan menata ulang energi sebelum melangkah lebih jauh.
Memasuki bagian tengah album, lagu-lagu seperti “Korban”, “Lara Membara” dan “Satu Api” mulai mengerucutkan konflik yang dihadapi. Ketiganya menyoroti ketegangan antara kerentanan dan ketegasan, antara menerima luka dan memilih untuk tetap bergerak.
Melalui pendekatan rock dan soul yang mereka usung, album ini menghadirkan suasana emosional yang terus meningkat.
Ketegangan itu kemudian berlanjut dalam “Setapak Kematian” dan “Tanya Tanda?”, dua trek yang menantang pendengar untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang arah hidup dan batas keberanian.
Kedua lagu tersebut berperan sebagai titik refleksi, memperlambat langkah untuk melihat kembali apa saja yang telah dibawa sepanjang perjalanan album.
Sebagai penutup, “krsst” menjadi klimaks yang menegaskan pesan utama album: kekalahan bukanlah akhir, melainkan awalan baru yang bahkan bisa dimulai oleh siapa saja.
Para personel Rumah Tua, yakni vokalis Triputra Aditias, gitaris Aranza Naufan, bassis Rendy Fauzhan serta dramer Muhammad Dwiky merumuskan ulang gagasan kalah sebagai bagian dari ambisi.
Sebagai kondisi yang justru menyalakan kembali dorongan untuk melawan. Penutup tersebut memberikan kesan bahwa perlawanan tidak berhenti pada satu suara saja, tetapi dapat diteruskan oleh siapa pun yang mendengarkan.
Rock n’ Soul
Butuh waktu kurang lebih setahun, Rumah Tua menggarap “Merayakan Hari Akhir”. Penyebabnya, lantaran memang masing-masing personel juga punya kesibukan lain di luar band.
Proses kreatifnya sendiri dimulai dengan saling bertukar referensi lagu, lalu bersama-sama menggodok aransemen serta struktur komposisinya, yang kemudian dimatangkan lewat jamming.
“Atau biasanya, dari vokalis ada materi liriknya yang (sudah) ada duluan, nanti baru dijahit bareng-bareng,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS.

Sejak awal, Rumah Tua sepakat menjadikan musik sebagai ruang yang bebas dan jujur. Tempat untuk menaruh kegelisahan, emosi, dan pengalaman tanpa harus disensor dan dipoles berlebihan.
Mereka mengedepankan identitas rock n’ soul, yang memadukan karakter rock era 70-an dengan nuansa yang hangat dan apa adanya, dimana ‘soul’ dipahami sebagai reaksi atas apa pun yang menyentuh kepala dan hati.
“Sebenarnya rock kami emang beda dibanding rock pada umumnya ya. Bisa dibilang, kami namainnya rock n’ soul. Dari masing-masih personel juga beda-beda dengernya, tapi ketemu tengahnya di Black Sabbath,” seru mereka lagi.
Pokoknya, rock n soul yang mereka maksud berakar pada rock yang gelap, namun coba dimodifikasi atau sedikit diotak-atik yang menghasilkan riff-riff yang lebih soulful.
“Ala-ala Melayu dikit, tapi tetap powerful!”
Para personel Rumah Tua mengakui, referensi yang mereka dengarkan saat penggarapan album terbilang acak. Kadang mereka menemukan sepotong riff dari salah satu lagu, atau terpancing lick gitar di lagu yang sekelebatan saja.
“Tapi, ada beberapa lagu yang memang berangkat dari Black Sabbath juga sih. Tapi itu juga gak full kami adopsi.”
Tapi di lagu “krrst”, band bentukan 2016 silam ini menggulirkan struktur lagu yang terbilang kompleks secara teknis. Dari segi aransemen, lagu tersebut punya nyawa yang agak berbeda dibanding dengan lagu-lagu lainnya yang mengutamakan riff dan distorsi keras.
“Di lagu ini, kami dituntut untuk main lebih santai agar dapet dark feel-nya dari segi vokal, gitar, bass dan dram. Hal ini yang ngebuat masing masing personel ‘agak kewalahan’ di proses rekaman. Karena yang biasanya main ngebut, di lagu ‘krsst’ kami dituntut main dengan sabar agar nuansa dark dari lagu ini ‘dapet’.”
Album “Merayakan Hari Akhir” telah tersedia di berbagai gerai layanan musik digital sejak 9 Januari 2026 lalu. (mdy/MK01)