Tanpa Beban, COKELAT Makin Agresif di Ranah Rock

Sejak tak lagi dinaungi label rekaman arus utama dan memantapkan diri terjun ke ranah indie, Cokelat bertekad tak mau setengah-setengah bereksplorasi. Ditambah lagi, kini didukung barisan personel yang disebut-sebut banyak kalangan sebagai formasi yang terbaik. Rock yang lebih pekat, namun tetap dengan groove yang sing-along kini menjadi target utama. Seperti yang akhirnya tertuang di single terbaru mereka, “Agresi”.

Formasi Cokelat saat ini diperkuat oleh Edwin Marshal Sjarif (gitar), Ernest Fardiyan Syarif (gitar), Ronny Febry Nugroho (bass), Axel Andaviar (dram) dan Aiu Ratna, mantan vokalis band pop rock Garasi, yang sempat pula menjadi vokalis tamu di unit emo/post-hardcore Killing Me Inside. Dengan modal inilah, racikan musik Cokelat menjadi lebih gesit dan tajam.

Edwin yang menulis lagu “Agresi”, sejak awal sudah membayangkan kontur alternative rock idealis yang diinginkannya. Dan kehadiran Aiu menjadi pelengkap sempurna dalam mewujudkan konsep tersebut. Aiu yang sudah terbiasa seru-seruan di pusaran rock Tanah Air menyuntikkan magnet tersendiri di “Agresi”. Terjadi eksekusi yang sepadan, dimana karakter kuat musikalitas Cokelat mampu diimbangi Aiu lewat olahan vokalnya yang powerful, namun membius lewat penyampaian nada yang magis dan emosional. Hal itu juga membuka kesempatan besar buat Cokelat untuk semakin melebarkan eksplorasinya dan berekspresi sebebas mungkin.

“Sudah saatnya. Kami ingin berkarya lebih bebas. Gue nggak mau terlalu perduli dengan apa yang terjadi di pasar industri kekinian. Seperti apa musik yang Cokelat mau? Itu ada di karya terbaru kami ini. Ide ‘Agresi’ sendiri muncul dari kegerahan gue terhadap paham, aturan dan semacamnya yang selalu menyerang diri dan hati. Lahirlah sebuah keagresifan rasa sebagai bentuk perlawanan,” umbar Edwin semangat. 

Dalam menggodok aransemen lagunya, Edwin mengaku sangat terinspirasi denyut rock ‘90an. Ketika ia mendengarkan lagu “Jesus Christ Pose” milik Soundgarden, tempo serta beat dari lagu tersebut lantas sangat mengilhaminya untuk melahirkan musik “Agresi”. 

“Dari awal gue ingin lagu ini menjadi sebuah karya berbeda dari Cokelat. Sisi-sisi bentuk idealisme alternative rock muncul di kepala gue. Riff, progresi kord, ketukan yang tidak biasa gue ulik berulang-ulang untuk mencari nada vokal yang juga nggak biasa, dengan lirik yang mencerminkan perlawan.”

Buncahan energi musikal dari Edwin itu lantas menemukan lawan yang sepadan di Cokelat, khususnya dengan kehadiran dramer muda berenergi gawat, Axel Andaviar. “Ketika demo gue kirim ke Axel, dia memberikan beberapa input yang menarik. Beberapa part menjadi modern rock, dan cut to cut ala Japanese rock. Hal-hal tersebut menjadikan ‘Agresi’ kaya aransemen.”

Tidak berhenti di situ. Ernest yang baru bergabung lagi di Cokelat sejak Maret 2020 lalu, juga disebut Edwin selalu datang dengan ide-ide isian gitar ala referensi khas dia, yang juga menjadikan beberapa bagian menjadi lebih kaya nada. “Saat sesi rekaman, Ernest meminta untuk merekam gitar lebih dulu dari gue. Sound ritem gitar Mike Einziger dari Incubus sangat terasa saat dia mengisi ‘Agresi’. Yang mana ketika gue mengisi gitar selanjutnya, digabung dengan sound dan isian grunge ala gue menjadi seru banget!”

Sejak terbentuk di Bandung pada pertengahan ‘90an silam, Cokelat telah melahirkan delapan album studio, dan berhasil melejitkan sejumlah hits seperti “Karma”, “Segitiga” dan “Bendera”. Tahun 2020 ini, Cokelat juga merilis single “Anak Garuda” yang berhasil masuk nominasi AMI Awards 2020 untuk kategori “Band Rock Terbaik”.

Single “Agresi” sudah dirilis secara resmi sejak 15 Desember 2020 lalu via berbagai gerai digital streaming seperti Spotify, Apple Music dan Joox. (aug/MK02)

Kredit foto: @warprocks

.

2 replies on “ Tanpa Beban, COKELAT Makin Agresif di Ranah Rock ”
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *