Perbedaan dari sudut pandang atau pemikiran adalah hal yang wajar dalam berkehidupan. Namun di negeri ini, Indonesia, masih banyak ditemui masalah perbedaan yang justru menjadi polemik pelik yang tak berkesudahan. Fenomena itu, menjadi bahasan intensif unit alternative rock asal Jakarta ini, di album mini (EP) debutnya, “Million Eyes”.
“Album ini menggambarkan perbedaan yang universal, seperti halnya perbedaan pendapat dalam suatu hubungan percintaan, pertemanan, ras, suku, agama serta pandangan politik. Album ini juga bisa menjadi sebuah pengingat untuk kita semua agar dapat berdamai dengan segala perbedaan yang ada.” Begitu pihak Llaydtrees memperjelas konsep lirik “Million Eyes”, yang telah dirilis resmi pada 12 April 2021 lalu.
Thesar Ali Pratama (vokal), Deden Susandi (gitar), Kharisma ‘Nuki’ Padma (gitar), Cakra Mahardhika (bass) dan Fadjar Setiawan (dram) mulai mengerjakan penggarapan rekaman “Million Eyes” pada November 2019 lalu. Dan sebenarnya, EP yang memuat lima lagu; “Other Hands”, “Sintetis”, “Kontroversi”, “Pulling” serta single pembuka, “Laugh” ini sempat dicanangkan bakal rilis pada Maret 2020. Namun di luar dugaan, pandemi datang dan memaksa Llaydtrees – band yang sebelumnya sempat menggunakan nama Eigengrau ini – menarik tali kekang dan memutuskan untuk menunda perilisannya.
Pengeksekusian rekaman “Million Eyes” sendiri tidak dilakukan dalam waktu bersamaan di satu tempat. Untuk dram misalnya, Llaydtrees menggarapnya di Als studio di kawasan Rempoa, Tangerang Selatan. Sementara untuk proses rekaman gitar dilakukan di Woodstock Studio, Pamulang. Tapi khusus sesi bass dan vokal, mereka memaksimalkan fasilitas rekaman rumahan di markas mereka sendiri. Termasuk pemolesan mixing yang dikerjakan sendiri oleh sang bassis, Cakra. Untuk proses mastering, Llaydtrees dibantu oleh Johan dari Coma Studio.
“Secara proses kreatif, lima lagu ini adalah ciptaan Deden, yang dibantu oleh Thesar dalam penulisan lirik,” ujar pihak band kepada MUSIKERAS, mengawali ulasannya seputar “Million Eyes”.
.
.
“Karena ini memang album pertama jadi masing-masing dari kami mencoba untuk eksploratif. Nah, kami sering banget tuh tuker-tukeran playlist sebelum workshop lagu yang mau direkam. Mungkin dari tuker-tukeran playlist itu kami jadi bisa ngebentuk karakter musik di EP ‘Million Eyes.”
Lebih jauh, hasil rembukan kreatif mereka bermuara pada konsep musik yang kurang lebih mereka istilahkan, ‘rock eksploratif’. “Million Eyes”, di mata mereka, ibarat sebuah mangkuk yang sarat antusiasme.
“Nah, dalam satu mangkuk antusias ini, mungkin kalian akan nemuin efek suara echo, reverb, serta ambient yang mengawang, harmoni gitar yang apik, dan juga lapisan ketukan dram yang saling bertabrakan, mengalir menjadi satu alunan. Kalo ngomongin dessert tuh, seperti kayu manis dalam semangkuk es krim, dimana kalian dapetin sorotan serta rasa yang menarik. Asssseeedaapp…,” beber Llaydtrees sambil tertawa.
Jika harus menyebut tentang referensi musik yang menjadi acuan “Million Eyes”, mereka mengaku sangat mengulik karya-karya dari musisi multi-instrumentalis asal Inggris, Tom Vek, lalu supergrup Atoms For Peace serta unit indie rock Kiev, yang lantas dieksekusi sesuai dengan penyatuan latar belakang para personelnya yang berbeda-beda. Dan dari lima lagu yang menyesaki “Million Eyes”, Llaydtrees menyebut “Sintetis” sebagai lagu yang cukup menantang sekaligus membanggakan penggarapannya.
“Karena dari lima lagu, cuma lagu ini yang harus ekstra ngitung, semacem pola ‘math rock’ gitu. Dan di lagu ini, kami ngabisin paling banyak waktu untuk re-take, re-take, dan re-take, hahaha…!”
EP “Million Eyes” kini sudah tersedia di seluruh kanal musik digital seperti Spotify, Apple Music, Deezer, Tidal, Amazon Music, Pandora, Shazam hingga YouTube. (mdy/MK01)