SENJA DALAM PROSA Persembahkan ‘Rock Sastra’ yang Menantang

‘Nir’ hadir dari ribuan pertanyaan di seperempat malam. Wujud dari para penyintas pahit getir manis ketiadaan dunia yang berbinar-binar bagai sorot mata kekasih.

“Nir” adalah karya album terbaru dari Senja Dalam Prosa (SDP), unit rock eksperimental nan ekspresif asal Surakarta, Jawa Tengah. Di karya rekaman yang digenangi tujuh komposisi sarat makna mendalam tersebut, SDP menganyam tuturan lirik yang dijodohkan dengan racikan instrumentasi yang dibiarkan terkesan redup, namun sesekali menyemburkan nada pelik namun terdengar lantang. Band bentukan 29 September 2011 ini berharap, bait-bait di “Nir” mampu membawa pendengar, pembaca, penikmat dan perasa musik mereka ikut larut dan tenggelam pada ketukan serta bunyi-bunyi yang menggema. 

“(Album) ‘Nir’ adalah perenungan, pencarian serta pertanyaan dalam. Teka-teki dari ragam luka sayatan realita kehidupan yang sepenuhnya kami alami sebagai perjalan panjang kami untuk berpulang. Adalah ruh yang kami percikkan pada kelahiran ‘Nir’ sebagai album penuh,” urai SDP mencoba menyusupkan doktrin musikalitasnya.

Sebelumnya, tepatnya pada 2013 silam, SDP sudah memulai geliat kreativitasnya dengan merilis album mini (EP) bertajuk “Kala” (Sailboat Records), yang berisi dua lagu berjudul “Rona Jingga Murka” dan “Niskala”. Lalu tiga tahun sesudahnya mereka melepas karya album penuh pertama, “Fana”, yang langsung disusul dengan tur di wilayah Jawa. Pada 2019, SDP melahirkan lagu rilisan tunggal bertitel “Rebas”, dimana formula musiknya menjadi semacam transisi. Karena ada perbedaan yang sangat timpang antara album “Fana” dan album “Nir”, yang dijembatani oleh “Rebas” tadi. 

Proses kreatif “Nir” diolah Ari Ayiks (bass), Bagas Kurnianto (gitar), Agung Jati Kusuma (gitar), Satria Wardhana (vokal) dan Irfan Fauzi (dram) di Cancer Studio, dipandu oleh mantan gitaris SDP, Satya Vega. Butuh waktu yang terbilang cukup lama lantaran dikerjakan selama pandemi Covid-19, dimana para personel band hampir tidak bisa melakukan aktifitas secara normal seperti sebelumnya. Dan hal itu berefek pada proses produksi album “Nir”, yang juga dibantu oleh Fidelis Altara untuk pemolesan mixing dan mastering.

.

.

“Kadang seminggu sekali kami masuk studio untuk berproses. Kurang lebih butuh waktu dua tahun untuk menyelesaikan produksi semua materi di album ini,” ujar SDP kepada MUSIKERAS, beralasan.

Tapi berpijak pada “Rebas”, eksploitasi sound serta alur lagu di “Nir” pun mengalami pergeseran konsep. Kini mereka sengaja mengurangi porsi harsh vocal, dan menggantinya dengan clean vocal yang berirama. “Agar, ruh dalam lagu dapat tersampaikan dengan jelas, dapat merasuki dimensi alam bawah sadar pendengar nantinya.”

Kali ini, di antaranya SDP lumayan banyak mendengarkan musik karya band-band dari AS seperti Russian Circles dan Pianos Become the Teeth, lalu tiga band dari Jepang, yakni Mono, Envy dan Heaven in Her Arms serta Paris in the Making (Singapura) sebagai referensi.

Lalu saat mengawinkan lirik dengan musik, SDP juga menerapkan formula yang berbeda dibanding sebelumnya. Saat mengerjakan materi-materi lagunya, gitaris Bagas sudah siap dengan materi berupa aransemen musik dan gambaran nada-nada kasar lagu untuk dikembangkan.

“Lalu, Bagas dan Ayik menentukan tema dan lirik yang nantinya dikawinkan dengan materi tersebut. Singkatnya, materi musik dan nada-nada dulu (yang dibikin) baru tema yang dieksekusi.” 

Keseluruhan proses menarik dan sangat menantang bagi para personel SDP. Karena menurut mereka, di tiap materi ada bagian-bagian tertentu yang ingin mereka tonjolkan, entah dari elemen musik atau pun dari lirik. Misalnya di materi “Manikmaya”, dimana mereka mengutip beberapa bait dari ‘Serat Kalatidha’, sebuah karya sastra Jawa kuno yang ditulis oleh RNg Ronggowarsito sekitar tahun 1860 Masehi.

“Kami sempat kebingungan, siapa yang pas untuk membacakan kutipan syair tersebut. Yang tentunya, (agar) pesannya dapat tersampaikan dan yang paling penting, ruh dari tiap bait tersebut bisa (terdengar) nendang banget. Akhirnya spontan kami meminta tolong ibu dari Satria untuk membacakannya.”

Selain “Manikmaya”, album “Nir” yang total berdurasi 35 menit juga memuat komposisi berjudul “Kenduri”, “Sien”, “Sraddha”, “Lani”, “Nilakandi” serta “Mrtyu” yang dibuatkan video musik. Secara resmi “Nir” dirilis via Senja Records pada hari ini, dan akan dikemas dalam format kaset pita serta piringan hitam. (mdy/MK01)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
hazar
Read More

HAZAR: Bukan Sekadar ‘Menghajar Keras’

Menandai pergantian tahun, Hazar letupkan rilisan album debut bertajuk “Minor Dramatic”, yang sarat gaya hardcore dengan irisan metal dan punk.