TESTERAN Eksploitasi Gairah Motorik Satu Menitan

“Jangan pernah takut berkarya, karena sebuah karya itu punya pasarnya masing-masing!”

Kalimat di atas diyakini oleh Testeran, sebuah talenta baru di ranah musik bising, yang berasal dari kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Dengan berkarya, lewat sebuah lagu rilisan tunggal debut yang bertajuk “Lagu Lo Pera”, Testeran ingin memberi contoh bagi para anak-anak band amatiran seperti mereka agar tidak sungkan memainkan musik yang mereka yakini.

Testeran sendiri mengusung format kebisingan di karya perdananya, dimana kembali memanggil gairah motorik mereka untuk memainkan musik-musik bising yang energik. Karena menurut tuturan mereka kepada MUSIKERAS, Testeran terbentuk sebagai ekspresi atas luapan nada-nada distorsi dalam sebuah mosphit dan juga kebisingan momen-momen berisik yang membawa aroma nostalgik.

Testeran yang dihuni gitaris Rico Dinda irianda, dramer Fyant FT, bassis Ivan ‘Benjj’ Benjamin serta vokalis yang sudah hengkang, Rey Congz memainkan riff gitar yang noise, crunchy dan ada sedikit terapan suara-suara fuzzy yang kotor. Sedikit banyak dibaluri pengaruh oldschool punk, punk hardcore dan sebagainya, yang antara lain diserap dari band-band seperti The Metz, Mudhoney dan Sonic Youth.

Proses penggarapan rekaman “Lagu Lo Pera” sendiri sebenarnya tidak lama dan dilakukan di TangTunk Records dalam atmosfir yang menyenangkan. “Penuh canda dan gurau, dan pas isi vokal, vokalisnya baca lirik langsung minta berhenti jadi personel,” cetus mereka tanpa merinci lebih jauh alasan sang vokalis mundur.

“Lagu Lo Pera” merupakan karya lagu yang terbilang cukup nyeleneh dalam durasi yang cukup padat. “Kenikmatan memainkan musik yang berdurasi cuma satu menitan nggak repot dan nggak bikin lupa. Kami berharap lingkaran mosphits tetap selalu terjadi dengan crowd yang pumping dan juga tight, sebagai pelepas kepenatan rutinitas sehari-hari di luar kami bermusik,” seru mereka terus-terang.

Testeran menyimpulkan “Lagu Lo Pera” merupakan bentuk pelampiasan, umpatan terhadap kekonyolan kaum borjuis tanpa karya atau kreasi, yang datang dan bersosialisasi hanya mengeksploitasi pundi-pundi materiil. “Watak-watak kuno yang menurut kami tidak dapat diadaptasi dan tidak membawa impact sebagai bagian dari perjalanan kehidupan. Terhadap kami khususnya.”

Setelah “Lagu Lo Pera”, Testeran kemungkinan akan melepas lagu rilisan tunggal lagi, dan belum berpikir jauh untuk melahirkan album atau EP. “Karena waktunya agak sempit dan di satu sisi, kami (juga) harus berjuang buat keluarga masing-masing.”  

Sejak 14 Februari 2024 lalu, “Lagu Lo Pera” yang dipublikasikan via ProjectLagi Studio dan limamilli sudah bisa dinikmati di platform digital streaming seperti Spotify, Apple Music, Youtube dan Bandcamp. (aug/MK02)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
moose
Read More

MOOSE: Black Metal Atmosferik dan Melankolis

Lewat lagu debut “Valley of Whispers”, Moose menangkap kondisi mental yang terjebak dalam spiral pesimisme, dalam balutan black metal yang gelap dan melankolis.
morgia
Read More

MORGIA: Formasi Bertiga, Makin Eksperimental

Usai melewati masa krisis formasi, kini Morgia kembali menggeliat dengan meluncurkan lagu rilisan tunggal terbaru, yang lebih gelap, mekanis dan imersif.