SABA akhirnya melontarkan karya lagu rekaman tunggal pertamanya, berjudul “In Between Days”, setelah terbentuk pada 2020 lalu. Band garage rock asal Jakarta ini ingin menggiring pendengarnya melalui perjalanan emosional yang dalam lewat lagu tersebut.

Lagunya sendiri dimulai dengan lantunan efek dan gitar yang membangkitkan rasa terdisorientasi dan melankolis. Lirik-lirik introspektif mencerminkan keadaan psikologis yang kompleks, dengan sentuhan keputusasaan yang diperparah oleh suasana yang menakutkan. Namun, di tengah-tengah kegelapan, ada juga harapan yang tersirat, terutama melalui penggunaan wine sebagai metafora perjuangan batin dan keyakinan akan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Keberadaan inspirasi dari Jim Morrison, vokalis band The Doors, menambahkan kedalaman pada “In Between Days”. Sang penulis, gitaris Alpihak mengakui pengaruh besar Morrison terhadap gaya penulisannya.

Proses rekaman “In Between Days” sendiri dieksekusi Alpihak, bassis Herwinda Pancadana (Qting), vokalis Ingrid Dharmawan serta dramer Soni Oktaviana selama dua hari, di Gift Studio, Tangerang. Tapi menurut tuturan pihak SABA kepada MUSIKERAS, sebenarnya mereka tadinya menargetkan proses tersebut bisa rampung dalam sehari.

“Di hari pertama Alpi buat strukturnya pakai gitar, lalu secara berurutan Soni, Qting, Alpi, dan terakhir gue rekaman. Kami awalnya rencana nge-take satu hari aja, tapi ternyata nggak cukup. Alhasil, kami rekaman lagi, tapi hanya gue dan Alpi aja. Untuk penyempurnaan sih, misal ambil suara dua dan tambahin efek,” ujar Ingrid mewakili rekan-rekannya di band.

Dari segi musikal, para personel SABA mengungkap bahwa proses peracikan komposisi “In Between Days” terjadi secara natural, tanpa didahului ketentuan harus terdengar seperti apa. Dan hasilnya, menurut mereka sangat di luar ekspektasi.

“Lagu ini jauh beda dibanding lagu-lagu yang sudah kita garap sebelumnya. Genre musik yang kami berempat suka itu beda satu sama lain. Jadi waktu akhirnya dikembangin dan kulik masing-masing, di-blend aja di studio. Tentu dengan beberapa adjustment sampai kami semua suka,” ucap Alpi memperjelas.

Dalam meracik komposisi serta aransemen di “In Between Days”, Alpi mengakui idenya datang dari ketidaksengajaan. Ia waktu itu mendengarkan lagunya The Doors yang berjudul “The Crystal Ship” dan lagu Muse, “Sing for Absolution”.

“Setelah lirik dan komposisi awal ini jadi, gue coba lempar ke anak-anak dan minta mereka bawakan ‘sesedih mungkin’. Ternyata Ingrid coba nyanyikan, dikulik gitaran bersama Robi saat itu, dan gue rasa cukup cocok dengan ‘suasana sedih’ yang gue minta. Lalu aransemen selanjutnya kami kulik di studio bareng-bareng. Prosesnya cukup cepat dan nggak butuh waktu lama untuk mengulik ‘In Between Days’ ini.” 

Usai merilis “In Between Days”, SABA sudah mulai menarget pembuatan album mini (EP) atau album penuh. Tapi dalam waktu dekat ini, mereka masih mengulik beberapa materi lagu di studio, yang sebelumnya sudah mereka miliki sebelum “In Between Days” muncul.

“Target kami supaya bisa manggung dulu, setelah itu mungkin rilis single lagi. Semoga bisa berjalan lancar!” 

“In Between Days” sudah dirilis dan dapat didengarkan di beberapa platform musik digital seperti Spotify, YouTube Music, Apple Music dan Bandcamp. Tonton video liriknya di tautan ini. (aug/MK02)