Setelah meluncurkan lagu rilisan tunggal berjudul “Cosmic Still” (2017), lalu album mini (EP) “Splitual” (2018), album penuh “Verticalysm” (2023) serta lagu lepas berjudul “Aksa” (2024), kini Marsmolys memperdengarkan “Kala” sebagai karya rekaman terbaru.

Kali ini, kuartet rock asal Yogyakarta ini berkolaborasi dengan seniman asal Jepang, Atasiaishii. “Kala” sudah tersiar di berbagai platform digital sejak kemarin, 21 Juni 2024. 

Dengan “Kala”, Marsmolys menjelajahi tema harapan dan dan impian melalui narasi dan musik yang langsung menyampaikan isi. Lagu tersebut mencerminkan perjalanan pribadi yang menginspirasi untuk diungkapkan melalui komposisi musik dan mengajak pendengar menemukan harapan dan impian dalam diri mereka sendiri dalam menghadapi himpitan waktu yang terus berjalan begitu cepat. 

Kata “Kala” sendiri memuat arti sebagai sebuah waktu untuk mencapai harapan dan mimpi, yang dapat dicapai dengan berbagai proses belajar dan tumbuh. Waktu dalam proses belajar dan tumbuh tersebut tanpa disadari berjalan begitu cepat, sehingga manusia tanpa disadari pula mulai menyusutkan berbagai harapan dan impiannya. Karena sejatinya, manusia dipenuhi ribuan mimpi dan harapan, namun waktu membatasinya.

Dalam sebuah era yang dipenuhi dengan himpitan waktu, Marsmolys ingin menyampaikan pesan impian dan harapan melalui musik. Dapat dikatakan dengan segenap keyakinan, “Kala” adalah bunga yang bersemi yang dipupuk dari olahan pikiran Marsmolys yang mewakili semangat untuk berani mencapai harapan dan impian. 

Di sisi lain, “Kala” menjadi suatu upaya lanjutan dari Marsmolys untuk mempresentasikan warna baru dalam musik mereka, yang berbeda dibanding karya-karya sebelumnya. Warna baru tersebut juga sekaligus untuk memperkenalkan formasi barunya, yang kini diperkuat Antino Restu (vokal/gitar), Yoga Bhakti (vokal/gitar/synth), Ferdy Listant (vokal/bass) dan Fahrenno (dram).

Sewaktu formasi baru ini merekam “Kala”, mereka meramunya di studio Catpaws Lab Studio. Biasanya ada masukan beberapa komposisi riff dari Tino dan lalu disatukan di dalam studio, dimana semua personel berhak memberikan ide dan masukan-masukan.

“Setelah sepakat kami lanjut ke rekaman,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

Sementara dari segi musik, kali ini Marsmolys menggunakan bahasa Indonesia, yang merupakan tantangan yang sulit bagi mereka. “Karena memang bahasa Indonesia bahasa sehari-hari, namun jika dibawakan dengan musik kami, memerlukan proses untuk mengolahnya agar kami bisa percaya diri membawakannya.”

Band rock klasik seperti Black Sabbath, Pink Floyd dan King Crimson disebut Marsmolys sebagai referensi utama mereka saat meracik “Kala”. Namun pada prakteknya, sebenarnya seluruh proses dibiarkan mengalir saja.

“Secara tidak sadar magis itu akan keluar dengan sendirinya, tanpa ada paksaan dari manapun. Kami menambahkan ambience suara vokal dimana kami berkolaborasi dengan seniman perempuan kelahiran Jepang, yaitu Atasiaishi supaya lebih menghanyutkan.” 

Usai merilis “Kala”, Marsmolys berencana merilis video live session, dimana juga akan ada pertunjukan spesial di sebuah hajatan seni terbesar di Indonesia, yaitu Artjog. Pertunjukan tersebut masih dalam satu rangkaian dalam presentasi lagu “Aksa” dan “Kala” yang akan dilaksanakan pada 27 Juli 2024 di Jogja National Museum.

“Kala” yang dirilis secara resmi di bawah naungan Boneless Records sudah bisa didengarkan di tautan ini. (aug/MK02)