AZNIG (アズニーグ) ditetapkan sebagai nama band, yang dicomot dari kata Ginza yang dibalik.
Sekaligus dimaksudkan sebagai simbol bahwa band ini lahir dari ruang kreatif kecil di pusat kota Tokyo, Jepang, yang lantas berkembang menjadi proyek musik dengan visi global.
Asal mula terbentuknya unit metal/alternative loud-rock ini digagas dari pertemuan dua sahabat lama: vokalis Yuta Kido (Yuta) dengan gitaris Angga Yudistia (Ken) dari Indonesia.
Sebelumnya, keduanya menjalani pendidikan di Sydney, Australia. Dari situ hubungan persahabatan terjalin. Adanya kesamaan minat dalam musik yang kuat, membuat Ken akhirnya memutuskan pindah ke Jepang.
Niat utamanya adalah untuk membangun band secara serius bersama Yuta, dimana akhirnya keduanya meresmikan kelahiran AZNIG dan mulai aktif di skena musik Jepang.
Demo Demokratis
Pada periode 2023–2024, AZNIG akhirnya merilis beberapa karya awal, seperti “They Never Learn”, “EMPTY ROOM” dan EP “Chemistry” (11 Juli 2024) yang memperkenalkan warna musik mereka ke publik.
Selanjutnya pada 2025, AZNIG merilis album penuh pertama berjudul “宵 (Yoi)”, dimana band yang kini juga dihuni gitaris Shun Noda (Shun), dramer Hideto Tanahashi (Hideto) serta bassis Izhara Takuya (Takuya) memadukan identitas lama sekaligus masa depan band.
Proses pembuatan album “宵 (Yoi)” sendiri membutuhkan waktu selama hampir satu tahun. Proses kreatif keseluruhan dipercayakan kepada Ken yang menjadi komposer utama.
Mulai dari penulisan lembaran musiknya hingga menjadi lagu berformat demo. Setelah itu, baru para personel lainnya memberikan sentuhan dan warna masing-masing.
Ken yang kebetulan juga berprofesi sebagai graphic designer, juga mengerjakan sendiri seluruh perancangan sampul album untuk AZNIG.
Untuk produksi rekaman, “宵 (Yoi)” digarap bersama teknisi suara berpengalaman internasional bernama Kelana Halim (juga personel band Methosa) di Jakarta, Indonesia.
Sebelumnya, Kelana juga pernah dipercayakan menggarap lagu rilisan tunggal dari band legendaris U2 (Irlandia) serta album remastered Luna Sea, band rock legendaris Jepang.
“Kelana Halim ini sahabat saya maktu masih di Sydney, Australia dan pernah main band bareng sama dia,” ujar Ken kepada MUSIKERAS, mengungkap alasannya bekerja sama dengan Kelana.
“Dari dulu, saya memang suka banget sama cara dia menggarap lagu. Dia (Kelana) sudah tahu betul secara detail warna musik Aznig seperti apa dan saya percayakan 100 persen pada dia untuk mastering semua lagu.”
Depersonalisasi
Penggabungan elemen metal modern, post-hardcore, rock alternatif, dan atmosfer emosional menjadi urat nadi musik AZNIG di album “宵 (Yoi)”.
Formula itu lantas dipertegas pula dengan terapan permainan gitar yang menyematkan 6 dan 8 senar dengan penekanan pada dinamika ‘tenang namun menghantam’.
Sementara dari lirik, AZNIG membawa tema depersonalisasi, trauma, konflik batin, perjalanan hidup hingga refleksi, yang disampaikan lewat fondasi gitar berat, ritme intens serta vokal melodik yang kuat.
Dalam peracikan komposisi serta aransemennya, Ken mengakui membuat dasar lagunya dengan mempertimbangkan berbagai genre serta referensi gabungan dari para personelnya.
Yuta sang vokalis lebih mengarah ke nu-metal model Deftones, Sistem Of A Down hingga Linkin Park, sementara gitaris Shun cenderung ke heavy metal serta band-band penganut v-kei macam X-Japan dan Luna Sea.
Pemberi warna lainnya datang dari bassis Takuya yang menyukai jazz dan funk, sedangkan Hideto lebih terpengaruh ke dramer gospel model Thomas Pridgen dan CJ Watskin. Ia juga menyukai permainan dari II, dramer Sleep Token.
“Saya sendiri di genre metal. Pada saat saya membuat music sheet lagu-lagunya, di situ para member memberikan warna musik mereka.”
Dari 12 lagu yang menyesaki “宵 (Yoi)”, Ken menyebut lagu berjudul “HELL” sebagai komposisi terunik. Bukan karena tingkat kesulitannnya, melainkan lantaran lagu ini dibuat Ken saat sedang melakukan jamming bebas bersama personel AZNIG lainnya.
“Dan uniknya lagi, pas kami coba ngerekam ulang untuk kedua kali, langsung jadi,” seru Ken sambil tertawa.

Mutual Respect
Kehadiran AZNIG mendapatkan perhatian luas di berbagai media Jepang. Bahkan pada 2025, mereka tampil dalam majalah musik rock legendaris BURRN!. Sebuah pencapaian penting bagi band metal independen Jepang.
Dukungan komunitas metal, kualitas produksi tinggi, dan identitas unik—terutama kehadiran KEN sebagai gitaris/komposer asal Indonesia—membuat AZNIG menjadi salah satu band baru yang diperhatikan di kancah loud-rock Jepang.
Dengan visi yang kuat dan ambisi untuk menembus panggung internasional, AZNIG terus memperluas jangkauan mereka melalui rilisan baru, live performance, serta kolaborasi lintas negara.
Salah satu faktor kuat yang mempercepat akselerasi band ini di Jepang, menurut Ken, adalah skena musik keras itu sendiri yang terbilang lebih terstruktur. Ditambah lagi, banyak sarana atau fasilitas untuk manggung musik metal di Jepang.
“Penonton musik metal Jepang kebanyakan terorganisir, interaksi antara band dan fans lebih mutual respect. Standar livehouse Jepang termasuk sangat strict. Audio video demo live di studio kadang jadi acuan bisa atau tidaknya kami manggung di livehouse ternama seperti Shinjuku Antiknock, Shibuya Cyclone dan lain-lain.”
Tapi jika membandingkannya dengan Indonesia, menurut pengalaman Ken, komunitasnya jauh lebih besar dibanding Jepang.
“Event-event gede metal lebih banyak di Indonesia, seperti Hammersonic, Hellprint dan Rock in Solo. Komunitasnya musiknya lebih solid. Kalau di Jepang berbasis individu (fans).”
Ada kelebihan, ada pula kekurangan. Di skena musik keras di Jepang, biaya produksi agak mahal. Pembiayaan serta sistem ketat yang diterapkan livehouse membuat perkembangan band terasa lambat. Band harus membayar sistem tiket.
“Kalo (kekurangan) untuk Indonesia, kayaknya lebih ke jadwal manggung yang… maaf, selalu ngaret,” ujar Ken sambil tertawa.
Album “宵 (Yoi)” yang diedarkan via label Black-listed Records Jepang sudah terhidang di berbagai gerai digital streaming platform. Sementara video musik lagu “Depersonalization” bisa ditonton di tautan kanal YouTube ini. (mdy/MK01)