Tak terasa, usia rilisan seru berikut ini sudah mencapai satu dekade! Di sini, tersaring 10 album rock/metal yang menurut kami cukup menggelegar gaungnya di era itu. Bahkan sebagian besar di antaranya masih relevan dan mengintimidasi hingga hari ini.
Sebutlah seperti Architects, Babymetal, Bad Omens, Gojira hingga monster metal dalam negeri, Deadsquad.
Bukan sekadar menakar kualitasnya, namun juga sejarah, prestasi serta pengaruh atau jejak yang ditorehkan, hingga momen transisi musikalitas yang ambisius di proses penggarapannya.
Selanjutnya, langsung saja simak ulasan selengkapnya di bawah ini:

MEGADETH “Dystopia” (Universal – 22 Januari 2016)
Banyak hal baru yang terjadi di album ini. Pertama kalinya melibatkan gitaris Kiko Loureiro (eks. Angra), satu-satunya album yang diperkuat dramer Chris Adler (eks Lamb Of God), dan merupakan album studio terakhir yang masih diperkuat bassis David Ellefson.
Tapi yang paling mengejutkan, juga merupakan karya rekaman pertama Megadeth yang berhasil memenangkan penghargaan Grammy untuk kategori Best Metal Performance (2017).
Secara keseluruhan, “Dystopia” seolah mengoreksi energi yang hilang di dua album sebelumnya, “Thirteen” (2011) dan “Super Colider” (2013), dan membuatnya berkobar kembali dengan musikalitas yang lebih maksimal, agresif dan menggigit.

ASKING ALEXANDRIA “The Black” (Sumerian – 25 Maret 2016)
Satu-satunya album Asking Alexandria yang diperkuat Denis Stoff, vokalis asal Ukraina yang bergabung mengisi kekosongan yang ditinggalkan Danny Worsnop pada Januari 2015.
Album “The Black” disebut-sebut sebagai salah satu karya metalcore terbaik yang pernah dihasilkan band ini, sejak era album “Stand Up and Scream” (2009). Dan kemampuan serta jangkauan vokal Denis Stoff yang lebar dan powerful juga menuai banyak pujian.
Antara lain, album tersebut berhasil melejitkan beberapa lagu favorit para penggemarnya seperti “I Won’t Give In”, “The Black”, “Let It Sleep” dan “Here I Am”.
Sayangnya, lagu-lagu itu tak pernah lagi dikumandangkan di panggung sejak Danny Worsnop kembali bergabung di Asking Alexandria pada Oktober 2016. Band ini juga sekaligus mengubah haluan musiknya, kini lebih mengarah ke rock, yang perlahan menenggelamkan popularitasnya.
O ya, formasi yang memperkuat album “The Black” sempat tampil di panggung Hammersonic Festival, Jakarta pada 17 April 2016 silam.

BABYMETAL – Metal Resistance (Sony Music – 29 Maret 2016)
Dibanding album debutnya (2014), karya studio kedua trio kawaii asal Jepang ini menawarkan racikan musik yang lebih variatif. Mencakup elemen groove metal dan nu metal seperti yang digeber di lagu “Karate” serta “Road of Resistance” dan “Amore” yang menerapkan keseruan melodic speed/power metal. Di lagu lainnya, juga menyentuh unsur technical progressive metal, symphonic metal bahkan black metal dengan selipan ornamen electronic/synth driven serta J-Pop tentunya. Resep keragaman sub-genre tersebut, sampai hari ini ternyata sukses membawa Babymetal ke panggung elit dunia.

ARCHITECTS “All Our Gods Have Abandoned Us” (Epitaph – 27 Mei 2016)
Album studio ketujuh dari salah satu band metalcore terbaik yang pernah dilahirkan di Inggris. Alum pertama yang melibatkan gitaris turnya, Adam Christianson, dan karya rekaman terakhir bersama pendiri, penulis lagu utama dan gitaris Tom Searle, yang lalu meninggal dunia pada 20 Agustus 2016.
Dari album ini melahirkan sejumlah komposisi brutal dengan bantingan yang bisa meretakkan lantai ‘dansa’, namun di waktu bersamaan sekaligus menusuk lewat lantunan chorus bernuansa ‘pop’ yang bikin ketagihan.
Ya, contoh paling jelas tentunya terwakili di lagu “Gone with the Wind”, yang mengombinasikan jeritan melodik vokal Sam Carter yang khas dengan produksi rekaman musik yang solid, megah dan anthemic. Blegh…!

GOJIRA “Magma” (Roadrunner – 17 Juni 2016)
Atmosferik, depresif, emosional sekaligus sarat amarah. Itu gambaran umum album yang untuk pertama kalinya berhasil membawa unit metal kebanggaan para metalhead Perancis ini masuk ke deretan calon pemenang (nominee) Grammy Awards 2017 untuk kategori Best Rock Album serta Best Metal Performance untuk lagu “Silvera”.
Selain “Silvera”, album studio keenam Gojira ini juga menawarkan komposisi metal berhawa progresif dan eksperimental yang brutal nan menawan di lagu “Stranded” dan “The Cell”.

BAD OMENS “Bad Omens” (Sumerian – 19 Agustus 2016)
Album debut yang hadir mengawali pencarian jati diri band asal AS ini. Bibit persilangan formula modern rock dengan gestur metalcore mulai terasah di sini. Antara lain terwakili di lagu “The Worst In Me” dan “Exit Wounds”. Juga sedikit terkontaminasi pengaruh Bring Me the Horizon di lagu “Glass House”. Bagian awal dari proses kreatif perjalanan musikal yang akhirnya terbentuk dengan sempurna di album ketiga, “The Death of Peace of Mind” yang dirilis pada 25 Februari 2022.

RAJASINGA “III” (Negrijuana – 31 Agustus 2016)
Keganasan grindcore dipaksa melebar dan lebih buas di album “III”, dimana unit keras asal Bandung, Jawa Barat ini mengeksplorasi musikalitasnya secara lebih energik. Bahkan ada rasukan riff-riff black metal model Darkthrone, Gorgoroth dan Venom yang menyihir hingga suntikan blues rock, stoner atau elemen heavy metal jadul ala Motörhead.
Dari album ini, antara lain nomor “Orang Gila”, “Stoner Magrib”, “Pembantai” dan “Weekend Rocker” bisa membuat Anda terhibur dalam keberingasan dan kebisingan.

TARING “Orkestrasi Kontra Senyap” (Grimloc – 21 Oktober 2016)
Berbekal bahan bakar penuh serta kemarahan yang dipupuk usai menjalani petualangan dari panggung ke panggung selama dua tahun, sejak melampiaskan album debut “Nazar Palagan” (2014), membuat Taring mengganas di album ini.
Selusin amunisi metallic hardcore berhulu ledak tinggi diraungkan trio cadas asal Bandung, Jawa Barat ini dengan tingkat kematangan musikal yang lebih tertata namun tetap intens dan mengintimidasi, dan dengan bobot lirik yang lebih menampar.

AVENGED SEVENFOLD “The Stage” (Capitol – 28 Oktober 2016)
Gebrakan mengejutkan sekaligus berani dari Avenged Sevenfold, yang melepas album ketujuhnya ini tanpa mengawalinya dengan aba-aba peringatan atau promosi apa pun. Perayaan perilisannya lalu digelar lewat sebuah aksi panggung unik di atap gedung Capitol Records bersama dramer barunya, Brooks Wackerman.
“The Stage” menjadi penegasan arah baru musik mereka, berkonsep, berdurasi panjang dan mulai menghindari komposisi rock/metal yang berstruktur standar. Formula progresif yang lantas semakin dipertajam di album “Life Is But a Dream…” (2023).
Lagu “The Stage” yang dijadikan judul album, berhasil masuk sebagai salah satu nominee untuk kategori Best Rock Song di Grammy Awards 2018.

DEADSQUAD “Tyranation” (M8/Demajors – 20 November 2016)
Berdurasi lebih dari 40 menit, album ini menumpahkan gagasan-gagasan berlumur elemen technical death metal yang ambisius. Di antaranya menghadirkan dua gitaris ternama, Dewa Budjana dan Andra Ramadhan (Dewa 19) yang masing-masing menyelipkan isian solo di lagu “Apocalypse For Sale” dan “Menyangkal Sangkakala”.
Walau tak lagi diperkuat gitaris Christopher ‘Coki’ Bollemeyer (namun masih meninggalkan jejak permainannya di lagu “The Comfort of Retardation”) dan bassis Bonny Sidharta seperti dua album sebelumnya, namun Deadsquad tidak kehilangan taringnya di karya rekamannya ini.
Di lini bass, ada Arslan ‘Alan’ Musyfia (Carnivored) yang mampu mempertanggungjawabkan tugas barunya, mengawal komposisi ketat nan presisi yang dieksekusi gitaris Stevi Morley Item, vokalis Daniel Mardhany dan dramer Andyan Nasary Suryadi aka Andyan Gorust dengan mulus.
Salah satu lagu dari album ini, “Pragmatis Sintetis” berhasil memenangkan trofi AMI Awards 2017 untuk kategori Karya Produksi Metal/Hardcore Terbaik.
(@mudya_mustamin)