Devotions meraungkan narasi kelam tentang kehancuran dunia dan keputusasaan umat manusia, lewat album penuh debutnya yang bertajuk “Distopia”.
Pada desain artwork albumnya, digarap secara epik, memperlihatkan entitas raksasa yang bangkit di tengah kota yang luluh lantak oleh api. Sebuah metafora visual bagi kekacauan sosial dan eksistensial yang diangkat dalam lirik-lirik di album tersebut.
“‘Distopia’ adalah kemarahan kami terhadap arah dunia saat ini. Ini bukan sekadar album musik, ini adalah soundtrack bagi akhir zaman yang kita ciptakan sendiri,” seru pihak Devotions, menegaskan.
Selain tumpahan lirik kegelisahan serta keprihatinan mereka, “Distopia” juga sekaligus menjadi gambaran keseriusan Devotions dalam bermusik.
Dalam penggarapannya, gitaris Muhammad Faizal Akbar (Faizal) dan Nur Hanizam (Nizam), dramer Abu Yazid Albasthomy (Tomi) serta vokalis Yudha Putra Aditya W. (Yudha) memikirkan setiap partikel kecil dalam penyusunan materi yang digarap kurang lebih setahun ini.
“Proses kreatif kami mulai dari riff gitar yang di buat oleh Faizal, lalu dikirim ke grup Whatsapp kami,” tutur band ini, mengungkap proses peracikannya kepada MUSIKERAS.
“Setiap personel (lalu) mengulik riff gitar yang dibuat Faizal, lalu Tomi mencoba membuat gambaran dramnya seperti apa, hingga nantinya masuk ke produksi.”
Di sela-sela proses itu, biasanya Yudha sudah membuat gambaran untuk pola vokal dan lirik lagunya seperti apa, dan kemudian ditambah beberapa isian lagi di tahapan akhir oleh Faizal dan Nizam.
“Begitu pra produksi lagu kami selesai, kami langsung membawanya ke Maulana Raka Firmansyah (Gerogot/Demented Heart) untuk (proses) mixing dan mastering.”

Romantika Bencana
Dalam “Distopia”, Devotions mengeksplorasi spektrum death metal yang lebih luas. Pendengar akan disuguhi dengan riff gitar yang invasif. Perpaduan antara kecepatan death metal gaya lama dengan tekstur modern yang berat.
Kemudian disiram deru dram yang intens dan agresif, yang menerapkan kecepatan blast beat yang presisi serta pola ritmik yang destruktif.
Untuk urusan peracikannya, unit death metal yang diperkuat personel asal Bali, Sidoarjo dan Jombang ini menyebut beberapa band lokal dan luar sebagai sumber inspirasi.
Ada Deadsquad yang mewakili skena lokal, serta band-band mancanegara seperti The Black Dahlia Murder dan The Faceless (AS), Ingested (Inggris) serta Hour of Penance (Italia).
Dari 10 komposisi lagu yang disemburkan di “Distopia”, Devotions mengungkap beberapa trek yang cukup menantang proses pengeksekusiannya saat rekaman.
“Menguras banyak waktu dan pikiran,” cetus mereka, terus-terang.
Yang pertama adalah lagu “Semiotika Genosida”. Lantaran riff yang dikirim Faizal dalam tempo yang cepat, sehingga dinamika musik menjadi cukup menantang.
“Proses yang cukup panjang dan matang untuk lagu ini. Kami memikirkan setiap komposisinya secara mendetail, berusaha untuk memberikan warna yang berbeda atau nis. Dari pengerjaan lirik juga terbilang cukup lama, karena harus melalui beberapa revisi dan take ulang vokal.”
Lagu lainnya adalah “Romantika Bencana”, yang juga memakan waktu panjang dan menantang. Alasannya, karena down tempo yang sangat terasa dibanding beberapa lagu lainnya.
“Sedikit membuat kami kebingungan untuk membuatnya terdengar enak dan men-deliver isi lagu ini.”
Sebelum merilis “Distopia”, Devotions telah memanaskan agresinya lewat peluncuran tiga lagu rilisan tunggal, yakni “Semiotika Genosida” (7 September 2024), “Diorama Akhir Zaman” (17 Januari 2025) dan “Misantropis” (20 Maret 2025).
Bagi band bentukan 6 Mei 2024 ini, “Distopia” menjadi tonggak sejarah baru sekaligus sebagai pernyataan tegas mengenai posisi mereka di kancah musik ekstrem Tanah Air. (mdy/MK01)
Susunan lagu di “Distopia”:
- Altar
- Diorama Akhir Zaman
- Semiotika Genosida
- Misantropis feat. Maulana Raka
- Pekat Jelaga feat. Nuril
- Demolisi
- Elegi
- Romantika Bencana
- Apokalips Dunia
- Renjana