Menyaksikan COMEBACK KID dari Dekat, di Perayaan “Wake The Dead”

Ageless Galaxy (AGLXY) dan Swillhouse Fam memboyong Comeback Kid kembali ke Indonesia untuk merayakan skena dan komunitas hardcore.
comeback kid
Foto-foto: Dok. AGLXY

Comeback Kid benar-benar ‘comeback’ ke Indonesia dan sukses menghibur para penggemarnya di Jakarta, pada Selasa (27/1) malam lalu.

Kali ini, konser dari salah satu unit hardcore punk berpengaruh di dunia tersebut terbilang cukup langka, lantaran dirancang lebih ‘intimate’ oleh penggagas hajatan, Ageless Galaxy (AGLXY) dan Swillhouse Fam.

Digelar di ZOO, kawasan SCBD, Jakarta, sebuah venue berkapasitas tidak besar dan tanpa sekat antara band dan penggemarnya.

Sebelum penampilan Comeback Kid, empat band Indonesia yang disegani di skena hardcore dan punk menggetarkan panggung untuk memberikan stimulan energi awal para ‘HC Kids’ yang telah memadati ruangan.

Aksi panggung Outrage, Alone At Last, Modern Guns dan Final Attack berhasil memantik dan memanaskan keliaran mosh pit di depan panggung.

comeback kidSekitar pukul 22:00 WIB, lima punggawa Comeback Kid pun muncul di panggung. Tanpa basa-basi, vokalis Andrew Neufeld, gitaris Jeremy Hiebert dan Stu Ross, bassis Chase Brenneman serta dramer Loren Legare langsung menggeber lagu pembuka yang disambut beringas para penggemarnya melalui aksi brutal di mosh pit.

Malam itu, Comeback Kid menggelontorkan set list penuh dari album “Wake The Dead”. Album perdana yang dirilis pada 22 Februari 2005 tersebut dinobatkan sebagai album terbaik dalam perjalanan karier band asal Kanada ini, yang melontarkan mereka ke level popularitas berikutnya.

Momentum ini terasa sangat spesial bagi band dan penggemarnya, untuk bisa merayakannya bersama, sebagai bagian dari peta Wake The Dead 20th Anniversary Tour.

Selain 11 lagu dari album tersebut, Comeback Kid juga menyelipkan beberapa lagu dari album lainnya. Termasuk “Heavy Steps” dan “G.M. Vincent & I”.

comeback kid

Namun sayangnya, penampilan mereka yang super rapih dan energik dengan tata suara yang bagus kurang bisa dinikmati secara visual oleh para penonton di bagian belakang.

Para personel band bentukan 2001 lalu ini nyaris tidak terlihat lantaran level panggung yang sangat pendek. Hanya sekitar 20 centimeter. Demikian halnya pada penampilan empat band pembukanya.

comeback kid

Alhasil, kami yang di belakang hanya bisa melihat punggung para penonton di depan, walau cukup seru juga melihat aksi liar penonton di lantai ‘dansa’.

Namun untungnya, sang frontman menyadari kendala tersebut. Berkali-kali Andrew turun ke tengah penonton dan berdiri di atas meja agar semua orang dapat melihat penampilannya. Dan tentunya bisa berbagi mikrofon ke para penonton untuk sing along.

Aksi yang menjadi ‘highlight’ konser malam itu, tentu saja terjadi saat lagu pamungkas, “Wake the Dead” dikumandangkan. Tahun lalu, lagu ini, telah direkam ulang oleh formasi terkini Comeback Kid untuk merayakan dua dekade usia perilisannya.

comeback kidBagaimanapun, malam itu terbukti sesuai pernyataan AGLXY tentang alasan penyelenggaraan event mereka ini.

“Hardcore selalu lebih besar daripada sekadar musik: ia adalah budaya ketahanan, persatuan, dan tujuan. Membawa Comeback Kid kembali ke Jakarta untuk perayaan ulang tahun yang begitu menentukan adalah cara kami merayakan skena, komunitas dan semangat untuk melakukan sesuatu yang melawan arus!”

Sebelum penampilan di ZOO, sebelumnya Comeback Kid tercatat sudah beberapa kali tampil di Indonesia. Pada 23 April 2008 silam, mereka pernah menjejakkan kaki di Stardust Cafe, Jakarta dalam rangka promo album “Broadcasting…” (2007).

Lalu pada 23 dan 24 Januari 2013, mereka melakukan tur Indonesia yang diselenggarakan di dua kota, yakni di Hard Rock Cafe, Bali dan di Bikasoga, Bandung. Yang terakhir, tampil di panggung Hammersonic Festival pada 19 Maret 2023. (Bimo D. Samyayogi – MK03)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
catalise
Read More

CATALISE: Metalcore ‘Ramah’ yang Menyihir

Terinspirasi beberapa band metal masa kini, Catalise jajal tantangan seru, meracik komposisi lagu metalcore baru yang ‘bersahabat’ di kuping banyak orang.
esh
Read More

ESH: Semburan Kritis Tanpa Kompromi

Akhirnya ESH rangkum keresahannya akan realitas pahit di sekelilingnya dalam bentuk protes legal di album mini (EP) debut “Ritus Mesin Terakhir”.