Th3 WAW: Antara Punk, Rock dan Bahasa Jawa

Tiga musisi dengan latar belakang musik berbeda berkolaborasi di formasi Th3 WAW, yang telah diresmikan via karya rilisan perdana yang berbahasa Jawa.
th3 waw
TH3 WAW

Th3 WAW adalah band asal Surabaya, Jawa Timur yang baru diresmikan kelahirannya pada Februari 2026 lalu. Latar belakang ketiga personelnya menjadi hal yang menarik dari trio ini.

Merupakan proyekan baru dari Setyawan Juniarso Abipraja (Wawan Dewa), mantan penggebuk dram grup Dewa era album debut “19” yang dirilis pada 7 Oktober 1992 silam via Team Records.

Album itulah yang memuat lagu “Kangen (Ku Kan Datang)” yang melejitkan nama Dewa ke level nasional untuk pertama kalinya. Wawan sendiri terlibat di Dewa selama periode 1986-1987 serta 1991-1994.

Saat Dewa menanjak ketenarannya setelah album pertamanya itu, Wawan hengkang pada 1994 dan tidak sempat menikmati masa-masa membanggakan itu. 

Selain Wawan, Th3 WAW juga diperkuat Darma Arief atau yang lebih dikenal dengan nama Arief Blingsatan. Ya, ia adalah unjung tombak unit punk Blingsatan, yang mempunyai karakter kuat sebagai penggiat musik skena sejak era 90-an. Khususnya di Surabaya.

Blingsatan yang terbentuk pada 2004 silam sempat merilis beberapa album, termasuk kompilasi “the best of Blingsatan 2005 – 2018: from the past for the future” pada 17 Agustus 2019.

Melengkapi formasi Th3 WAW, diisi oleh Devi Indriawan, atau yang lebih dikenal dengan nama Wawan Klantink.

Ia adalah sosok musisi jalanan yang talentanya, bersama grup Klantink, telah teruji di dunia hiburan nasional. Mereka awalnya mencuri perhatian setelah menyabet juara pertama di kompetisi Indonesia Mencari Bakat (IMB) pada 2010 silam.

Kini Klantink merupakan salah satu ikon musik Surabaya.

Nama depan tiga personel inilah, yakni Wawan Dewa, Arief Blingsatan dan Wawan Klantink yang membentuk inisial Th3 WAW sebagai nama band.

Kesombongan Klise

Th3 Waw mengonsep musiknya sebagai sebuah persilangan dari karakter bermusik masing-masing personelnya. Ketiganya menggabungkan hard rock, pop punk dengan musik folk jalanan.

Formula itulah yang diterapkan di lagu rilisan tunggal debut mereka, yang bertajuk “Tuek Gaya”, yang telah resmi diperdengarkan ke khalayak luas sejak 26 Februari 2026 lalu.

Th3 WAW sendiri dipertemukan lewat ‘studio jamming’ yang lantas berlanjut dengan proses berkarya di sebuah studio rekaman bernama Maca Records, yang terletak di Porture studio, Surabaya.

Turut membantu proses rekaman, mixing dan mastering sesi tersebut adalah Cakra serta isian gitar dari Richo Ferdiansya, personel unit punk Laopan Jaya.

Ada yang unik di lagu “Tuek Gaya”, dimana Wawan, Arief dan Wawan sengaja menggunakan bahasa Jawa Surabaya-an dalam penulisan lirik.

Diterapkan sebagai respresentatif bahasa cangkrukan atau bahasa obrolan arek Suroboya dengan musik yang bernuansa rock 90-an, dimana energi hard rock bertemu dengan keliaran punk rock serta notasi vokal bernuansa rock alternatif.

Apa alasan mereka menggunakan bahasa Jawa?

“Untuk kali ini comfortable pake bahasa Jawa. Next belum tahu, mungkin pake bahasa Arab, Indonesia atau bahasa daerah lainya. Ngalir aja bro… soal ide musik, lirik hingga bahasa,” urai mereka kepada MUSIKERAS beralasan.

“Tuek Gaya” bercerita tentang problema yang biasa ditemui di kalangan tongkrongan yaitu tentang kesombongan seseorang terhadap sahabat-sahabat lamanya karena kesuksesannya.

Hal klise dalam dunia pergaulan yang menjadikan alasan Th3 WAW mengangkat tema tersebut.

Lebih jauh mereka menjelaskan, bahwa ada dua hal mendasar yang mereka sampaikan di lagu ‘urakan’ tersebut.

“…ilingo menungso pasti matek, iling Ndunyo pasti entek (ingatlah manusia pasti mati, ingatlah dunia pasti habis / kiamat….”

“Pesan ini juga sebagai ‘self remainder’ buat kami,” cetus mereka menegaskan.

Sedikit membedah judul lagu “Tuek Gaya”. Kata ‘tuek’ merupakan bahasa ‘slank’ Surabaya yang diambil dari ‘metuwek’. Kata yang berkonotasi sok tua atau sok lebih segalanya.

Sementara kata ‘gaya’ yang bukan berarti ‘style’. Melainkan, dalam arti harafiah berarti ‘sombong’ dalam bahasa cangkrukan.

Dalam meracik komposisi “Tuek Gaya”, ada beberapa referensi yang menjadi pertimbangan atau sumber ide dan inspirasi mereka.

“Asupan gizi dari glam rock sampai pop punk macam Bon Jovi. Mötley Crüe hingga blink-182 dan Sum41.”

Sambil mempromosikan “Tuek Gaya”, para personel Th3 WAW juga sudah mulai menyicil materi lagu buat kemasan album mini (EP).

“Progresnya udah sekitar 60-an persenlah, tinggal poles-poles dikit biar nggak kalah kinclong sama muka abis di-filter TikTok. Ditunggu aja, bakal ada kejutan yang lebih pecah!”

Dengarkan “Tuek Gaya” di berbagai gerai penyedia layanan musik digital serta di kanal YouTube untuk video musiknya. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
cloudcry
Read More

CLOUDCRY: Pendekatan Tajam dalam Metalcore

Sebuah ‘surat dari luka yang dalam’ kini disuarakan Cloudcry lewat berondongan metalcore yang lebih padat, tajam, agresif sekaligus emosional.
infusion
Read More

INFUSION: Lebih Brutal di “Carmine”

Melanjutkan perjalanannya di pentas musik ekstrem, kali ini Infusion hadirkan kobaran musik yang lebih agresif, gelap dan mengancam di lagu terbarunya.
gabrielle
Read More

GABRIELLE: “Metal Menarik dan Seru!”

Usai terapkan elemen alternative/gothic rock di lagu debutnya, kini Gabrielle ‘pindah alam’ ke ranah metal ekstrem lewat album mini (EP) “Animals”.
lurruh
Read More

LURRUH: Wajah Lama, Kebrutalan Baru

Manifestasi kegagalan manusia dimuntahkan Lurruh di karya debutnya, “Heresi” yang mengeksplorasi formula metalik hardcore yang modern dan brutal.