Nonstop bukan sekadar band baru, melainkan sebuah kolektif musisi berpengalaman yang memutuskan untuk menanggalkan ego personal di balik topeng misterius.
Mereka mengadopsi konsep anonymous seperti legenda rock dunia macam KISS dan Slipknot. Nonstop memilih untuk tampil eksentrik.
Penggunaan topeng ini bukan tanpa alasan; mereka ingin pendengar fokus sepenuhnya pada substansi musik dan pesan yang disampaikan. Menciptakan suasana yang magis sekaligus eksklusif di tengah tren visual yang serba terbuka saat ini.
Konsep itu, lantas dipadukan dengan racikan rock yang variatif, seperti yang diterapkan Nonstop di album debutnya yang bertajuk “Antirem”.
Kekuatan utama band asal Jakarta ini terletak pada kematangan para personelnya. Penggerak utamanya adalah vokalis Agus Tri Hari Yono, atau yang lebih dikenal dengan nama Zewex.
Bukan nama baru. Karena pada pertengahan era ’90-an, Zewex telah merebut perhatian publik musik Tanah Air lewat band Karpet, yang melejitkan lagu “Males”.
Lagu itu – bersama video klipnya – sempat mendominasi MTV Indonesia, dan bahkan memperoleh penghargaan Video Klip Terbaik di ajang Video Musik Indonesia RCTI periode IV (1997-1998).
Di Nonstop, ia lalu berkolaborasi dengan gitaris Wahyu Sudiro, mantan personel TRIAD, band asuhan Ahmad Dhani (Dewa 19).
Kedekatan Zewex dan Wahyu tumbuh di bawah naungan Republik Cinta Management (RCM) milik Ahmad Dhani, menghasilkan warna musikalitas yang matang dan berkelas.
Dalam penggarapan “Antirem” sendiri, Nonstop juga diperkuat personel yang datang dari beberapa band.
Ada bassis Teguh Ibrahim (Backdoor/Dul Jaelani), gitaris Dedy Ariyanto (SOS/Pesawat Tempur) dan Dave Agphine H.R (Classrock/Synopsis), dramer Isyarama Bayu aka Rama Doz (Pesawat Tempur) serta kibordis Andi Priyanto aka Andibias (Andromedha).
Di samping itu, pengisian instrumentasi album “Antirem” juga melibatkan beberapa musisi papan atas Indonesia. Mulai dari Ahmad Dhani, Andra Ramadhan serta Didit Saad (Plastik).
Turut pula, dua putra kandung Ahmad Dhani, yakni Abdul Qodir Jaelani aka Dul Jaelani dan Ahmad El Jalaluddin Rumi aka El Rumi.
Mereka turut memberikan sentuhan magis ke dalam album berisi sembilan lagu, yang direkam sepanjang periode 2016 – 2025 di Grim Studio (dulu bernama Hijau Studio), Maia Al El Dul Studio, Harper Studio dan RCM Studio.
“Semuanya memang satu lingkaran pertemanan dan terjadi secara organik. Dari demo yang disosialisasikan oleh Zewex membuat mereka tertarik untuk ikutan ngisi rekaman,” cetus pihak Nonstop kepada MUSIKERAS mengungkap alasan di balik keterlibatan para musisi tersebut.

Terbang Tinggi
Sebagian besar materi lagu dasar di “Antirem” berawal dari rekaman seadanya dalam format demo garapan Wahyu, yang lantas disosialisasikan oleh Zewex ke beberapa musisi yang nantinya akan dilibatkan dalam proses kreatifnya.
Secara teknis, album “Antirem” adalah sebuah perayaan audio. Nonstop menggabungkan energi British rock dengan elemen-elemen vintage yang jarang terdengar di musik modern hari ini.
Ada sentuhan klasik seperti isian synthesizer dan Harpsichord yang elegan. Ornamen itu lantas melebur dalam energi liar dan kasar dari raungan fuzz gitar yang agresif, yang berpadu dengan tiupan saksofon.
Lalu karakter dan warna vokal Zewex yang serak berstruktur menjadi identitas yang sulit dilupakan di sepanjang album “Antirem”.
“Rock adalah soal kebebasan. Terlalu bosan jika hanya berdistorsi dan terlalu naif jika hanya berteriak,” cetus band ini, menegaskan filosofi peracikan musiknya.
Di dalam album “Antirem”, mereka menyebut target utamanya adalah menciptakan melodi yang kuat.
Pemilihan sound yang menggabungkan vintage dan modern juga sangat menjadi perhatian utama selama penggarapan album. Mulai dari fase rekaman hingga mastering.
“Tentunya vokal Zewex yang sangat rock dipadu dengan musik yang sentimentil dan melodious membuat album ini unik.”
Band-band rock mancanegara macam Led Zeppelin, The Beatles, Nirvana, Metallica, Weezer, The Flaming Lips, Tame Impalla hingga Artic Monkeys mereka sebut sedikit banyak memperngaruhi proses peracikan aransemen dan komposisi lagu-lagu di “Antirem”.
Tapi dari sembilan lagu yang mereka kumandangkan, adalah komposisi “Terbang Tinggi” yang dianggap paling menantang eksekusi rekamannya. Pasalnya melibatkan banyak musisi.
Selain ada saksofon dan piano, juga ada tiga pengisi gitar di lagu ini, yaitu Andra Ramadhan, Didit Saad dan Wahyu Sudiro.
“Untuk rekaman pun dari berbagai studio yang berbeda. Walaupun sangat effort dan melelahkan, namun kami sangat puas dengan hasil akhirnya!”
Sejak 14 Februari 2026 lalu, keseluruhan lagu di “Antirem” sudah bisa digeber via berbagai gerai penyedia layanan musik digital. Salah satu lagunya, “Alcohol” sudah bisa disaksikan video musiknya di tautan kanal YouTube ini. (mdy/MK01)