TARING: Menghunus “Megatruh” Menuju Jepang

Dari Bandung, Jawa Barat, Taring siap memuntahkan energi mentah dari album terbaru mereka, “Megatruh” ke Jepang pada April 2026 mendatang.
taring
TARING

Taring dijadwalkan bakal menginvasi dua kota besar di Negeri Sakura, Jepang, yakni Tokyo dan Nagoya untuk sebuah perjalanan tur bertajuk Taring Nippon Onslaught 2026 tahun ini.

Dua penggerak utama band tersebut, yakni vokalis Hardi Rosady dan dramer Ujang Rahmat (Gebeg) bakal menggeber set pendek dan tanpa kompromi.

Jadwal yang sudah diumumkan di akun Instagram mereka, Taring akan tampil di Wildside (Gekiko Fest), Tokyo pada 17 dan 18 April 2026, lalu ke Studio 246 (The Resistance Lives On Vol. 1), Nagoya pada 19 April, dan ditutup Pit Bar, Tokyo pada 22 April.

Di bawah bendera Kiba o Muku 牙をむく — Hardcore Assault, kampanye band tersebut kali ini mengedepankan etika DIY (do it yourself) dan solidaritas komunitas.

Menurut mereka, serangan ini lebih menekankan tentang bertukar intensitas dengan komunitas lokal. Bukan sekadar pertunjukan.

Kiba o Muku sendiri merupakan ritual pelepasan dan perpanjangan promo panggung untuk “Megatruh”, album terbaru Taring yang dirilis setahun lalu. Tepatnya pada 21 Februari 2025.

Bagi Hardi dan Gebeg, “Megatruh” yang memuat sembilan komposisi beringas dengan total durasi 24 menit tersebut menyalurkan penulisan lagu paling jujur dari band bentukan 2013 silam ini.

Lagu-lagunya lebih pendek dan keras; lirik yang membahas keretakan dan ketahanan; serta produksi yang mengutamakan performa mentah daripada polesan.

Tur ke Jepang dirancang Taring untuk menggaungkan lagu-lagu dari “Megatruh” tersebut ke tempat-tempat pertunjukan dengan set pendek dan brutal.

Mereka ingin menunjukkan taring yang merupakan simbol keberanian dan konfrontasi dalam musik, bukan bahaya.

“Kami datang ke Jepang untuk bermain keras, untuk terhubung, dan untuk memaksimalkan segala kemungkinan. Harapkan riff-riff kasar, set yang ketat, dan malam-malam yang bakal meninggalkan kesan di tempat-tempat pertunjukan!”

taring
Poster “Taring Nippon Onslaught 2026”

Warisan Produser

“Megatruh” yang telah dimulai perjalanannya sejak peluncuran lagu pembuka, “Berapi-api” pada 10 Maret 2023 lalu, menandai perubahan yang lebih tajam bagi Taring.

Kali ini meluapkan lagu-lagu yang lebih ringkas dan agresif, dengan pendekatan produksi yang dirancang menangkap urgensi pertunjukan.

“Kami sebagai musisi harus terus berkarya, karena dengan karya sebagai jembatan kami untuk tetap eksis di dunia musik. Sekali berarti, sesudah itu mati. Tapi karya akan tetap abadi,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, tentang misinya di penggarapan “Megatruh”.

Keseluruhan materi yang menjadi amunisi “Megatruh” sudah digarap Taring sejak lama. Direkam di Chronic Rock Studio dan Funhouse Studio, Bandung.

Dalam penggarapan rekamannya, Hardi dan Gebeg dibantu kontribusi gitaris Angga Kusuma dan bassis Yuwan Arestiyan, serta teknisi bunyi langganan mereka, Tatang Sumantri aka Zoteng, yang juga dikenal sebagai gitaris dari band Forgotten.

Tapi yang membuat “Megatruh” lebih istimewa, karena juga merupakan warisan karya dari mendiang Aries ‘Ebenz’ Tanto, gitaris sekaligus motor penggerak utama band Burgerkill yang meninggal dunia pada 3 September 2021 lalu.

Sebagai produser, Ebenz berperan banyak di penggodokan album tersebut. Antara lain membantu memaksimalkan Gebeg dalam menyempurnakan deru dan dentuman permainan dramnya. Berbeda dibanding proses rekaman album-album Taring sebelumnya.

“Album baru ini lebih detail. Proses rekaman yang begitu melelahkan energi, pikiran dan lain-lain, tapi hasilnya puas dan maksimal,” cetus mereka lagi.

Sepeninggal Ebenz, proses produksi lantas diteruskan bersama Agung Ridho Widhiatmoko aka Agung Hellfrog, gitaris Burgerkill. Ia, secara khusus ikut memberi arahan-arahan dalam memaksimalkan eksplorasi riff-riff serta struktur lagu.

“Megatruh” yang diedarkan via label dirilis via Revolt! Records memuat eksplorasi hardcore/punk dengan aneka groove yang tak tertebak dan sensibilitas metal yang kuat.

Berbalut lirik dan kalimat yang penuh kepalan, komposisi musik seperti ini akan selalu menjadi karakter Taring. Seperti api, yang panas dan membara.   

Sebelum “Megatruh”, Taring telah menghasilkan album “Nazar Palagan” (10 Oktober 2014) dan “Orkestrasi Kontra Senyap” (21 Oktober 2016).

Di luar itu, antara lain juga pernah melepas lagu rilisan tunggal bertajuk “Kekal Menjalang” (3 September 2015) dan “Slaptika” (15 Maret 2018). (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
cloudcry
Read More

CLOUDCRY: Pendekatan Tajam dalam Metalcore

Sebuah ‘surat dari luka yang dalam’ kini disuarakan Cloudcry lewat berondongan metalcore yang lebih padat, tajam, agresif sekaligus emosional.
infusion
Read More

INFUSION: Lebih Brutal di “Carmine”

Melanjutkan perjalanannya di pentas musik ekstrem, kali ini Infusion hadirkan kobaran musik yang lebih agresif, gelap dan mengancam di lagu terbarunya.
gabrielle
Read More

GABRIELLE: “Metal Menarik dan Seru!”

Usai terapkan elemen alternative/gothic rock di lagu debutnya, kini Gabrielle ‘pindah alam’ ke ranah metal ekstrem lewat album mini (EP) “Animals”.
lurruh
Read More

LURRUH: Wajah Lama, Kebrutalan Baru

Manifestasi kegagalan manusia dimuntahkan Lurruh di karya debutnya, “Heresi” yang mengeksplorasi formula metalik hardcore yang modern dan brutal.