Dengarkan ‘Desahan’ 3D di Video Animasi SERINGAI

Lirik ‘Ishtarkult’ cerita tentang seks, cukup tersiratlah. Tapi untuk (konsep) video, dari dulu memang pengen punya video animasi tapi belum pernah kejadian. Belum pernah ketemu partner yang gue mau. (Karena) Gue fans animasi science fiction, pengen terapin di video ‘Ishtarkult’.” 

Kalimat di atas dilontarkan vokalis dan penulis lirik unit rock oktan tinggi, Seringai, Arian Arifin a.k.a. Arian13 kepada MUSIKERAS. Ia menjelaskan latar belakang “Ishtarkult”, single ketiga dari album “Seperti Api” (2018) yang baru saja diluncurkan video musiknya. 

Nah, konsep video inilah yang menarik sekaligus mengejutkan karena dieksekusi dalam format animasi 3D. Adalah Afterlab, sebuah studio animasi 3D asal Bandung – sebelumnya pernah menangani seri animasi berbasis web, “Si Kancil” – yang konon membutuhkan waktu selama empat bulan untuk merampungkan video animasi tersebut.

Gebrakan band asal Jakarta yang telah menggeliat sejak 2002 silam ini adalah salah satu output menyegarkan di tengah kejenuhan akibat deraan pandemi. Bagi dramer Seringai, Edy ‘Khemod’ Susanto, melahirkan sebuah video animasi 3D menjadi progresi yang natural untuk Seringai. Karena sebelumnya, Seringai sudah pernah membuat berbagai konsep video musik, dari band performance sampai storytelling, action hingga stop motion cukil kayu. So what’s next?

Makanya, saat Seringai mendapat kesempatan bekerja sama dengan Afterlab studio, kesempatan tersebut dimanfaatkan sebagai peluang bereksplorasi secara kreatif. Apalagi, gagasan mereka itu juga mendapat sambutan positif dari Jägermeister Indonesia yang selama ini telah menobatkan Seringai sebagai brand ambassador.

Ide cerita video “Ishtarkult” sendiri merupakan hasil keroyokan ide para personel Seringai sendiri, yang didasari lirik Arian13. Bercerita tentang seorang pemimpin sekte Sumeria dan para pemujanya bertemu Dewi Ishtar yang anggun memesona di sebuah gurun tandus Mesopotamia. Alih-alih menebar harapan dan kemakmuran, kedatangan sang dewi ternyata justru membawa malapetaka bagi semua. Menurut mitologi Babilonia yang dikutip Wikipedia, Ishtar merupakan perwujudan dewi kesuburan, cinta, perang dan hubungan seksual. 

“Semacam short movie, dan kami bisa bekerja sama dengan Afterlab untuk mengejar waktu (penggarapannya), dipercepat jadi empat bulan dari harusnya dua tahun,” seru Khemod semangat.

“(Kali ini) Seringai ‘jemput bola’ nih. Dengan adanya video animasi ini, untuk meramaikan dunia digital akibat pandemi,” imbuh bassis Sammy Bramantyo.

Oh ya, di single “Ishtarkult” yang berdurasi 5:20 itu sendiri, Seringai kali ini menghadirkan kontribusi vokal dari penyanyi sekaligus pencipta lagu, Danilla Riyadi. Kebetulan, konsep musik Seringai di “Ishtarkult” memang berbeda dibanding lagu-lagu sebelumnya. Terkesan lebih doomy, dengan terapan tempo yang cenderung lambat dan ‘gelap’. Dan menurut gitaris Ricky Siahaan, berangkat dari konsep itulah tercetus ide untuk menghadirkan vokal perempuan. 

“Kami bahas bersama, seru juga kalau ada lagu yang mid tempo seperti (band) Electric Wizard. Nggak doomy banget, tapi masuk kategori itu dan ada featuring vokal perempuan…. Dengan tempo segitu, agar nggak jatuh ke kategori sludge, jadi di dram ada kepikiran (ketukan) yang mencerminkan detak jantung orang yang sedang berhubungan. Trus kepikiran warna vokal Danilla cocok. Kebetulan kenal juga, dan kalo ada tema yang nggak biasa itu pas banget dengan sosoknya. Jika Danilla bernyanyi tentang seks itu keren aja, sangat wajar, dan dia tau banget cara ngisi vokalnya di lagu itu,” urai Ricky blak-blakan. 

Bernyanyi di musik seperti “Ishtarkult”, bagi Danilla merupakan pengalaman pertama dan ia langsung merasa sangat keren. “Lumayan cross dibanding musik di albumku. Energinya enak banget, dan aku dibebasin dengan harmoni vokal yang banyak…. (Sempat) Agak susah pas bagian monolog, karena harus ada suara mendesah,” beber Danilla sambil tertawa. Hmmm….

Saat ini, Seringai mengabarkan sudah memulai proses workshop untuk penggarapan album baru. Bahkan Ricky memberi bocoran sudah ada tiga atau empat lagu yang sudah dibuat. Namun dalam kamus Seringai, tak ada batas waktu pasti dalam berproses menuju pembuatan album. Mengingat kesibukan masing-masing personel selalu menjadi kendala utama. 

“Mengorganisir waktu masing-masing personel adalah tantangannya.. Sejak awal kami sadar, ngeband di Indonesia tidak bisa menjadi yang utama, harus ada kerjaan lain masing-masing. Terasa di pandemi saat ini, teman-teman musisi yang sebelumnya (hanya) ngandelin manggung jadi bingung,” tutur Arian.

Ricky lantas menguatkan pernyataan Arian tadi, bahwa sejak awal, Seringai memang dibentuk untuk bersenang-senang. Makanya, dalam penggarapan musik pun, mereka tak ingin terlalu terbebani oleh detail dan berlama-lama di fase itu. Khususnya saat mereka didera kebuntuan dalam kreativitas misalnya.

“Pasti ada (momen) mentok dan pernah mengalami itu setelah beberapa album. Dulu awal-awal sangat spontan, namun setelah beberapa album mulai detail membedah (konsep) album. Misalnya kalau mau ada terobosan seperti apa? (Sekarang) Kami nggak pengen berlarut-larut memikirkan itu. Kami di sini karena ingin senang-senang, bukan untuk membuktikan apa-apa. Menu utama kami dalam berkarya adalah, kami senang nggak waktu memainkannya?”

Sebelum “Ishtarkult”, Seringai telah merilis dua video musik untuk album “Seperti Api”, yaitu “Selamanya” serta “Adrenalin Merusuh” yang menampilkan aktor Iko Uwais. Menurut data salah satu layanan musik streaming internasional, lagu “Ishtarkult” hingga kini telah dimainkan lebih dari 1,2 juta kali hanya di platform tersebut. (mudya/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *