Ruang Gelap dan Cerita Horor di Single MATTERPRETATION

Terlibat di tiga proyek band yang keseluruhan tergolong berkontur cadas, yaitu D’Ark Legal Society, Down For Life dan Pentagressive membuat Mattheus Amadeus Aditirtono merasa perlu sedikit bergeser ke luar garis untuk menyalurkan ekspresi egonya sendiri sebagai musisi. Dan kini, hasil dari kesendiriannya telah menelurkan sebuah single baru bertajuk “In a Dark Room”. Sebelumnya, pada 2020 lalu, Mattheus juga sudah pernah merilis lagu berjudul “Lies Sadness Depression”.

Salah satu alasan untuk menggarap karya solo – dimana Mattheus menggunakan nama Matterpretation sebagai identitas – karena pendekatan yang ia lakukan di karya-karya solonya memang tidak sesuai dengan karakter yang dibutuhkan tiga band tadi. “Tetap ada approach atau komposisi yang nggak masuk di proyek-proyek tersebut, dan memang mainly lebih (bertujuan) ngelepas ego sebagai songwriter tanpa harus mengganggu proses kreatif di band-band yang lain sih. Sebenarnya benar-benar pengen mengeksplorasi ego yang terpendam dan ternyata seru juga. Prosesnya cukup refreshing,” seru Mattheus kepada MUSIKERAS, penuh semangat.

“In a Dark Room” sendiri merupakan bagian pertama dari tiga single yang rencananya akan dirilis Matterpretation tahun ini. Lagu berjenis impromptu ini terinspirasi dari gambar sebuah ruangan gelap dari sebuah cerita horor yang memiliki nuansa tenang namun mencekam, dimana segala sesuatu bisa terjadi dalam ruangan tersebut dari mulai penyiksaan, penculikan sampai pembunuhan.

.

.

“Proses kreatif ‘In a Dark Room’ dan Matterpretation sendiri sebenarnya berdasarkan dari interpretasi dari sebuah visual, entah gambar atau pun video, (yang) dituangkan ke dalam bentuk musik. Kebetulan belakangan ini lagi tertarik nonton cerita-cerita horor atau thriller yang based on true story, dan ketika ngeliat visual-visual yang ditampilkan di cerita tersebut, langsung kayak ada sebuah riff atau lagu yang tercetus di kepala,” urai Mattheus lagi, yang mengaku memainkan sendiri seluruh isian instrumentasi dan merekamnya di studio rekaman rumahan pribadinya.

Ada perbedaan yang cukup signifikan di single baru tersebut, jika dibandingkan “Lies Sadness Depression”. Lagu tersebut melibatkan unsur vokal, sedangkan “In a Dark Room” murni berformat instrumental. Lalu dari sisi lirik, tema yang dituturkan di “Lies Sadness Depression” menceritakan tentang seseorang yang ketergantungan terhadap obat LSD dan berusaha untuk melawan adiksinya dan memulai hidup baru. Sedangkan “In a Dark Room” – seperti yang sudah diurai di atas – lebih terkesan thriller

“Konsepnya sebenarnya berupa impromptu instrumental berformat trio gitar, bass dan dram yang dimainkan secara spontan sambil melihat sebuah seni visual – video dan gambar – sebuah ruang gelap. Untuk referensi musik, sebenarnya bisa dibilang tidak ada. Tapi kalau benang merahnya mungkin lebih ke (band progressive rock legendaris) King Crimson era (album) ‘The Construkction of Light’ dan ‘The Power to Believe’.”

Single “In a Dark Room” kini sudah dapat didengarkan via berbagai platform digital seperti Apple Music, Spotify, Deezer dan Tidal. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *