Pada Januari 2011 silam, pelaku hardcore metal asal Yogyakarta ini sempat merebut perhatian lewat komposisi yang melebur ritme sarat dentuman heavy hardcore dengan lirik lagu rap yang berbahasa Jawa. Konsep itu mereka tumpahkan lewat album mini (EP) demo berjudul “Modal Kecu”.

Tahun ini, jurus yang kurang lebih sama bakal dimuntahkan lagi lewat karya baru. Rencananya, akan diluncurkan bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-14 Knockdown. Tapi sebelumnya, mereka terlebih dahulu ingin mengajak pendengarnya untuk mengenang rasa frustrasi saat pandemi menghantam kehidupan mereka, serta sebagian besar manusia di berbagai belahan dunia, lewat komposisi kelam bertajuk “Despotic”.

Lagu rilisan tunggal terbaru ini, meluapkan lanskap suara yang lebih berat dan gelap, layaknya dark hardcore metal yang mencerminkan emosi mendalam. Berdurasi sekitar tiga menit, “Despotic” langsung membawa pendengar ke dalam perjalanan musik berdistorsi yang intens dan dinamis. Bebunyian yang dihasilkan dari tiap personel terdengar penuh energi dan memberikan denyut kuat pada lagu ini. 

“Despotic” bukan hanya musik semata. Band yang kini dihuni formasi Alfi ‘Phitexalfi’ Rahamwan (vokal), Yoqka Bima (gitar), Gregorius ‘Komo’ Adi (bass) dan Yosafath Yosi (dram) ini menggambarkan emosi selama menjalani masa-masa sulit di era pandemi. Liriknya menunjukkan rasa frustrasi akan solusi, rasa muak atas janji-janji yang tak kunjung terpenuhi, dan semangat untuk bangkit untuk terus menghadapi. Bait pada bagian chorus lagunya; “People dying, they have got no breathing, can’t you see? We are not your enemy” menjadi pengingat kuat akan perjuangan banyak orang yang menjadi korban karena pandemi Covid-19. 

Rencana untuk merekam “Despotic” sebenarnya sempat harus dibatalkan karena keterbatasan waktu. Namun tahun ini, setelah sering tampil di atas panggung dan bertemu dengan lebih banyak sumber inspirasi, Knockdown akhirnya memutuskan untuk merekam ulang materi “Despotic”, yang telah terbengkalai selama tujuh tahun. Hasilnya, mereka pun berhasil mengubahnya menjadi versi yang ada sekarang.

Secara keseluruhan, sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan di racikan musiknya. Khususnya jika membandingkannya dengan karya mereka sebelumnya, yang termuat di album penuh debut “The War”, rilisan 1 Januari 2016.

“Yang benar-benar berubah adalah bagian vokal bersih dan lead gitar, yang memang menjadi gagasan kami sejak lama. Ketika kami menciptakan lagu ‘Despotic’, kami tidak memiliki konsep khusus untuknya. Namun, selama proses mixing dan mastering, kami menyadari bahwa lagu ini memiliki nuansa yang lebih modern, berat dan gelap. Kami menyadari bahwa kami tanpa sengaja telah menciptakan sesuatu yang berbeda dari karya sebelumnya,” beber Knockdown kepada MUSIKERAS, merinci eksplorasinya.

Meskipun tidak ada perjanjian resmi, para personel Knockdown merasa penting untuk selalu menantang diri mereka sendiri dan menciptakan materi yang segar. “Ini adalah cara kami menjaga semangat kreatif kami dan menghindari kejenuhan. Dengan begitu, kami dapat terus bereksperimen dan berkembang sebagai musisi.”

Pun dalam hal referensi, Knockdown membiarkan ide liar mereka bergulir dengan sendirinya saat meracik “Despotic”, dengan inspirasi yang datang dari arah acak. Apalagi, karena lagu ini memang sudah dibuat sejak beberapa tahun yang lalu.

“Kami hanya berimprovisasi di studio untuk mengolah kembali tanpa membawa materi yang sudah disiapkan. Bahkan bagian lead gitar ditemukan pada hari perekaman gitar,” ujar pihak band, yang mengaku banyak menyerap referensi suara dari band-band dunia macam Malevolence, Knocked Loose, Slipknot, Meshuggah hingga Slayer.

Sebelum merilis “Despotic”, Knockdown yang terbentuk pada September 2009 silam telah menancapkan prestasi yang lumayan di panggung hardcore metal. Band yang sedikit banyak terpengaruh musikalitas band dunia seperti Hatebreed, Animosity, Sworn Enemy, First Blood dan Crackdown ini tercatat pernah berbagi panggung dengan band-band mancanegara yang mampir di beberapa kota Indonesia. Sebutlah seperti Relentless (Australia), Abhorrence (Finlandia), No Turning Back (Belanda) serta tiga band asal AS, yakni Backtrack, Madball dan Sick of It All.

Sejak 11 Agustus 2023, “Despotic” yang kembali dilepasliarkan via label Samstrong Records sudah bisa dilantangkan di berbagai platform digital. (mdy/MK01) 

.

.