10 Album Mancanegara Capai Dua Dekade di 2025

Banyak album keras dengan kualitas jempolan yang dirilis dua dekade silam. Sepuluh di antaranya, kami anggap tetap terdengar relevan hingga hari ini.
dua dekade

Oleh @mudya_mustamin

Dua dekade silam, adalah era ketika industri musik masih sangat menggairahkan. Platform digital streaming belum menjajah, para pemuja musik masih menikmati produk rilisan-rilisan fisik dan tayangan video-video klip menarik di kanal MTV.

Tapi di sisi lain, tahun ini juga menandai lahirnya kanal YouTube yang akhirnya mengubah cara kita menonton video musik selamanya, serta game Guitar Hero yang membuka akses seluas-luasnya bagi metalhead untuk memainkan lagu-lagu pujaannya tanpa harus lihai memainkan gitar sungguhan. 

Dan di era ini jugalah, 10 album cadas yang kami ulas di sini dirilis pertama kali. Bahkan tidak berlebihan jika disebut, 10 album ini masih menancapkan pengaruh kuatnya hingga hari ini. Tetap terbaik, bahkan setelah melewati ujian kekekalan selama 20 tahun.

20 tahun

The Mars Volta “Frances the Mute” (11 Februari 2005 – Universal Music)

Merupakan karya album penuh kedua dari proyek kolaborasi gitaris/produser Omar Rodríguez-López dan vokalis Cedric Bixler-Zavala usai meninggalkan band karam, At the Drive-In. Ketika resmi dirilis pertama kali, album berformula alternative/psychedelic/progressive rock yang memuat komposisi emosional nan menyihir “The Widow” ini mampu menempati posisi keempat terlaris di daftar album terlaris AS, Billboard 200.

“Jika seseorang tidak dapat membayangkan sebuah band memiliki lagu berdurasi 32 menit, maka itu berarti saya tidak dapat berbicara dengan mereka tentang rekaman pertama (band) Funkadelic, atau rekaman (musisi jazz) Miles Davis, atau apa pun yang benar-benar menarik dan inovatif bagi saya. Percakapan kami akan sangat terbatas. Saya tidak menghakimi mereka karena itu. Orang-orang membutuhkan lagu berdurasi tiga menit yang dapat mereka pahami. Orang lain hanya memiliki perspektif yang berbeda.” (Omar Rodríguez-López)

20 tahun

Trivium “Ascendancy” (15 Maret 2005 – Roadrunner Records)

Album yang pertama kali melejitkan nama Trivium secara lebih luas, yang menjadikan mereka sebagai salah satu pelontar paham metalcore yang patut diperhitungkan saat itu. “Ascendancy” sendiri berhasil menembus peringkat album terlaris Billboard 200 dan Top Heatseekers di AS. 

Album yang memuat komposisi terbaik Trivium seperti “Pull Harder on the Strings of Your Martyr”, “A Gunshot to the Head of Trepidation” dan “Dying in Your Arms” ini juga merupakan karya rekaman pertama dengan formasi yang melibatkan gitaris Corey Beaulieu serta bassis Paolo Gregoletto.

Seluruh hasil rekaman (awal) agak sumbang karena (penalaan) gitar itu tidak sesuai dengan nadanya. Kami benar-benar menghapus semuanya, menyetel gitar setengah tingkat lebih tinggi, dan membuat ulang seluruh album lagi.(Matthew K. Heafy)

20 tahun

Audioslave “Out of Exile” (23 Mei 2005 – Epic Records and Interscope Records)

Ini adalah album studio kedua dari proyek persekutuan tiga personel Rage Against the Machine dengan mendiang Chris Cornell (vokalis Soundgarden). Karya rekaman yang antara lain memuat lagu “Be Yourself”, “Doesn’t Remind Me” dan “Your Time Has Come” tersebut merupakan satu-satunya album mereka yang berhasil menerobos hingga ke peringkat teratas di daftar album terlaris AS, Billboard 200. Bahkan juga sempat dinominasikan di kategori Best Hard Rock Performance di Grammy Awards ke-48 (2006).

“Dari sudut pandang saya, ini adalah rekaman pertama dalam karier kami, dimana kami menghabiskan seluruh waktu untuk fokus pada musik, bukan pada perbedaan interpersonal atau masalah manajerial atau masalah narkoba!” (Tom Morello)

20 tahun

Avenged Sevenfold “City of Evil” (6 Juni 2005 – Warner Bros./Hopeless Records)

Album studio ketiga mereka yang menandai pergeseran dari ranah metalcore, menuju formula yang lebih mengarah ke heavy metal modern. Berkat salah satu lagu unggulannya, “Bat Country”, band ini mampu mencapai peringkat 30 di daftar album terlaris di AS Billboard 200, sekaligus memenangkan gelar Best New Artist di MTV Video Music Awards 2006, mengalahkan artis-artis besar seperti Rihanna, Panic! at the Disco, James Blunt dan Angels & Airwaves.

“Kami pada dasarnya telah melakukan semua hal tentang metalcore. Kami pikir kami melakukannya dengan sangat keren. Kami melakukannya dengan cara yang berbeda dari orang lain, tetapi kami tidak ingin berteriak lagi. Jadi kami kayak, ‘Ayo buat rekaman metal yang lengkap.’ Dan saat itu, kami tahu kami dapat bermain hingga ke level itu.” (M. Shadows)

20 tahun

Dream Theater “Octavarium” (7 Juni 2005 – Atlantic Records)

Berdurasi lebih dari 75 menit, keseluruhan album ini tetap disesaki komposisi mewah dalam skala progresif metal, walau kadar teknikal di lagu-lagunya sedikit dikendorkan, sehingga menghasilkan komposisi yang relatif mudah dicerna. Seperti yang terdengar di lagu “The Answer Lies Within” atau “I Walk Beside You”.

Setelah menulis album konsep “Metropolis Pt. 2: Scenes from a Memory”, “Six Degrees of Inner Turbulence” dan “Train of Thought”, Dream Theater mencoba membuat lagu-lagu yang lebih mudah dicerna. Menurut gitaris John Petrucci, mereka ingin fokus pada penulisan lagu-lagu yang kuat. Untuk mencapai niat ini, mereka pun hanya menggunakan piano, gitar dan vokal saat menulis. Jadi hanya fokus pada penulisan melodi dan struktur lagu.

20 tahun

Opeth “Ghost Reveries” (29 Agustus 2005 – Roadrunner Records)

Salah satu album rekaman terbaik yang pernah dihasilkan unit progressive death metal asal Swedia ini. Merupakan album pertama mereka di bawah naungan label Roadrunner, dan juga merupakan karya pertama Opeth yang berhasil menerobos 10 besar peringkat album terlaris di Swedia.

Selain itu, “Ghost Reveries” yang antara lain memuat komposisi epik “The Grand Conjuration” dan “Ghost of Perdition” juga menghadirkan kontribusi pertama kibordis Per Wiberg dan yang terakhir bagi dramer Martin Lopez serta gitaris Peter Lindgren.

“Saya hanya melakukan hal-hal saya sendiri. Saya tidak tahu ke mana kami mengarah, tetapi saya tidak menganggapnya sebagai momen yang menentukan. Hal terpenting bagi saya (di album ini) adalah penyertaan keyboard, tetapi di luar itu saya tidak terlalu memikirkan apa yang sedang kami lakukan.” (Mikael Åkerfeldt)

20 tahun

Thirty Seconds to Mars “A Beautiful Lie” (30 Agustus 2005 – Virgin Records/EMI)

Karya album tersukses mereka sejauh ini, dari sisi komersil. Antara lain melejitkan lagu “The Kill”, “From Yesterday”, “A Beautiful Lie” dan “Attack”, dimana band ini mengombinasikan elemen post-hardcore, hard rock, alternative rock dan emo. Juga menandai awal bergabungnya gitaris Tomo Milicevic, tapi merupakan satu-satunya album yang menghadirkan kontribusi bass dari Matt Wachter. 

“Album kedua kami dan sebuah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Album ini benar-benar tentang berperang dengan diri sendiri dan akhirnya menang.” (Jared Letto)

20 tahun

Children of Bodom “Are You Dead Yet?” (14 September 2005 – Spinefarm/Century Media)

Terinspirasi dari pengalaman mendiang vokalis/gitaris Alexi Laiho yang terkapar di rumah sakit dalam kondisi luka-luka dan patah tulang, usai terjatuh saat mabuk berat di malam sebelumnya. Berawal dari situlah ia melahirkan album yang memuat lagu “Are You Dead Yet?” dan “In Your Face” ini.

Karya rekaman tersebut adalah yang pertama kali melibatkan kontribusi gitaris Roope Latvala, dan sekaligus menandai pergeseran konsep musik yang lebih simpel, namun lebih berat dan diberi sentuhan elemen industrial.

“Bagi saya, selalu sulit untuk mengungkapkan musik dengan kata-kata. Itu adalah sesuatu yang harus Anda dengar. Namun, saya dapat memberi tahu Anda bahwa tujuan band ini adalah kami hanya ingin membuatnya lebih ekstrim dan lebih agresif serta mendorongnya sejauh yang kami bisa. Dan yang terpenting, kami tidak akan ke arah yang lebih lembut.” (Alexi Laiho)

20 tahun
Penulis dan Alexi Laiho, di lobi Ambhara Hotel, Jakarta Selatan, 14 November 2011
20 tahun

Bullet For My Valentine “The Poison” (3 Oktober 2005 – Visible Noise Records/Trustkill Records/Sony BMG)

Album debut yang langsung menuai sukses, memadukan elemen metalcore yang kental, yang dibubuhi nada-nada ramah untuk pendengar radio di bagian chorus, di sebagian besar lagu-lagunya. Di antaranya terdengar di nomor “4 Words (To Choke Upon)”, “All These Things I Hate (Revolve Around Me)” dan tentu saja, “Tears Don’t Fall”.

“Kami benar-benar tahu bahwa kami telah menulis sesuatu yang istimewa. Tidak ada band yang terdengar seperti kami. Dunia musik metal telah berubah dengan (munculnya) Killswitch Engage, lalu ada Avenged Sevenfold dan Trivium, dan kami adalah perwakilan Inggris.” (Matthew Tuck)

20 tahun

Dragonforce “Inhuman Rampage” (28 Desember 2005 – Victor Entertainment/Roadrunner Records)

Sejak terbentuk pada 1999, baru di album studio ketiga inilah band asal Inggris tersebut berhasil menarik perhatian lebih luas, di jagat metal. Berkat album yang memuat komposisi berdurasi panjang nan epik, “Through the Fire and Flames” (salah satu lagu terfavorit dan tersulit di video game Guitar Hero saat itu), DragonForce disebut-sebut turut andil mengangkat kembali popularitas paham power metal di era 2000-an.

“Kami memastikan bahwa musiknya melodik dan mencoba membuatnya lebih menarik dengan berbagai hal. Seperti kali ini keyboard-nya benar-benar banyak berubah. Kami menggunakan lebih sedikit unsur klasik dan semacamnya dan kali ini mencoba membuatnya terdengar lebih futuristik. Kami mencoba untuk benar-benar mendorong dan memasukkan ide-ide baru dan menggabungkan semuanya, tetapi tanpa mengubah gaya band. Akan selalu ada unsur energi dan kecepatan dan hal-hal seperti itu. Kami juga tidak akan mengurangi solo (di gitar).” (Herman Li)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts