Hazar menyebut proyek album debut “Minor Dramatic” sempat tertunda cukup lama. Namun sejak dibentuk pada 2021 lalu, unit hardcore crossover asal Bandung, Jawa Barat ini konsisten menyalurkan energi agresif.
Kegesitan itu dikombinasikan dengan semangat mandiri (DIY) yang menjadi fondasi utama dalam setiap karya yang mereka hasilkan.
“Minor Dramatic” digarap gitaris Dea Sukma Nugraha (Dean), dramer Eko Wiryawan Nurcahyo (Koy), bassis Insan Reza Reksanagara (Ipok) serta vokalis Exan Iman Putra Pratama (Exan) di Teargas Lab, Bandung.
Mereka menumpahkan energi maksimal lewat sembilan nomor cadas, termasuk di dalamnya satu materi instrumental dan satu lagu kolaborasi dengan M. Irsyad R., gitaris Jeruji sebagai musisi tamu di lagu “Silang Sengketa”.
Lalu di divisi visual, ada Gustav InSuffer yang dipercaya untuk menggarap desain artwork dari album tersebut.
Sementara untuk garis besar tema lirik lagu-lagunya, “Minor Dramatic” berkutat pada isu sosial dan politik negara ini. Kenyataan bahwa rakyat kerap dikecewakan oleh sistem dan pemerintah yang seringkali tidak berpihak pada mereka.
Lirik-lirik Hazar memuat spektrum emosi yang luas—optimisme, kegelisahan, kemarahan, kebingungan, hingga kasih sayang. Semua itu disampaikan melalui perspektif personal setiap personelnya. Kejujuran dan intensitas emosional tersebut menjadi nafas utama dari karya-karya Hazar.

Menguliti Emosi
Layaknya sebuah mesin yang harus diisi komponen terbaiknya, formasi terkini membuat Hazar semakin solid dan siap menghajar jalanan lewat kesiapan yang lebih matang.
Apa yang mereka tawarkan di album debutnya itu dipadati kobaran hardcore yang diberi sentuhan metal dan punk. Terinspirasi dari band-band mancanegara macam Hatebreed, Power Trip hingga Gojira.
“Keunikan kami bukan soal ‘berbeda demi terlihat beda’, tapi tentang keberanian keluar dari pola yang aman,” seru pihak Hazar mengungkap konsepnya kepada MUSIKERAS.
“Musik kami adalah cerminan emosi manusia yang tidak selalu stabil: kadang meledak, kadang diam, kadang penuh konflik. Di situlah identitas kami terbentuk. Bukan sekadar ‘menghajar keras’, tapi menguliti emosi lalu membakarnya di atas riff!”
Lebih detail, Hazar menegaskan bahwa racikan musik mereka lahir dari persimpangan agresi hardcore yang lebih agresif, dinamika progresif, dan riff-riff dengan ritme cepat.
“Kami realistis dan apa adanya. Apa yang kami berikan siap dipertanggungjawabkan. Kami tidak sekadar menyuarakan perlawanan, tapi lebih kepada kenyataan yang kami rasakan.”
Hidup, Bernyawa
“Tafsir Martir” adalah salah satu lagu yang paling menantang pengeksekusiannya di album “Minor Dramatic”. Hazar menyebut lagu itu memiliki aransemen yang di luar kebiasaan mereka saat membuat lagu. Juga, kali ini vokal clean diisi oleh Ipok sambil memainkan bass dengan tone yang cukup detail.
“Ini bukan hal yang mudah karena ia harus menjaga vokal agar tetap stabil sambil fokus ke permainan bass. Apalagi ada tekanan mental, takut suara sumbang, yang justru menuntut kontrol dan kepercayaan diri lebih.”
Selain itu, komposisi “Konspirasi” juga mereka rasa menantang. Karena alasannya, cukup sulit pada vokal untuk membuat langgam dan nadanya, lantaran permainan instrumen yang berbeda dari lagu-lagu yang lain.
Namun jika berbicara teknis secara keseluruhan, adalah menjaga presisi di tengah kompleksitas yang membuat penggarapan “Minor Dramatic” sangat menantang.
“Beberapa lagu punya perubahan tempo, dinamika naik-turun tajam, dan layer instrumen yang padat, terutama di rhythm section. Tantangannya bukan cuma soal ‘bisa dimainkan atau tidak, gampang atau susah’, tapi bagaimana mengeksekusinya tetap hidup dan bernyawa di saat rekaman.”
Hazar berharap, album “Minor Dramatic” yang telah dirilis dalam format digital pada 8 Januari 2026 lalu bisa menjadi amunisi yang siap diluncurkan untuk memanaskan banyak lahan moshpit di perjalanan band ini selanjutnya. (mdy/MK01)