Headkloud menyebut “Lagu Anjing” sebagai sebuah karya yang menangkap pengalaman universal dan seringkali komikal dari ritual pulang pagi setelah begadang.
Secara literal, mereka mengungkap liriknya menceritakan kisah dikejar anjing dalam perjalanan pulang subuh, sebuah situasi yang terasa dekat bagi banyak anak muda di kota besar.
Namun, seperti yang selalu dilakukan kuartet rock bertenaga dari Jakarta ini, cerita sederhana tersebut menjadi sarana untuk membahas tema-tema yang lebih dalam, seperti adrenalin, kekacauan, dan momen-momen intim pasca-kegilaan.
Kehadiran “Lagu Anjing”, dituturkan Headkloud kepada MUSIKERAS, dimulai dari sebuah ide untuk menormalisasi kata ‘anjing’ yang sebetulnya sudah sering dipakai di masyarakat. Khususnya generasi muda.
“Dari ide ini, kemudian keluar suatu konsep untuk menceritakan suatu kekacauan kecil yang imajinatif dan diteruskan dengan keresahan pikiran yang disebabkan berita-berita negatif yang muncul di media sosial,” seru mereka.
Dan puncak dari semua itu, lanjut Headkloud lagi, mereka mengakhiri lagunya dengan seruan, ‘Anjiiiiingggg!!!!’.

Filosofi Civilphobia
Dalam “Lagu Anjing” yang proses rekamannya membutuhkan waktu kurang lebih sebulan, pendengar akan merasakan pertemuan energi yang eksplosif dari berbagai lintas scene. Mulai dari kedalaman emosional post-hardcore, dinamika alternative rock yang luas, hingga kecepatan dan semangat memberontak dari punk.
Semua kekacauan yang mereka semburkan di lirik ditutup dengan meletakkan permainan solo gitar yang cukup progresif di akhir lagu.
“Dan itu membuat susunan musik dari ‘Lagu Anjing’ menjadi punya perbedaan dengan musik sejenis pada umumnya,” cetus Headkloud meyakinkan.
O ya, secara konsep, musik yang diterapkan gitaris/vokalis Toontje George Erastus (Toni) dan Anbigart Rangga Mahardie (Bigart), dramer Anprisarc Rangga Mahardie (Dansky) serta bassis dan vokalis latar Dimas Gatra Sukmanajati (Kimung) cenderung mengarah ke formula rap metal atau rap rock.
“Rap metal atau rap rock khasnya (band) Rage Against the Machine, yang menggabungkan elemen metal, hip-hop, rock dan juga punk untuk vokalnya.”
Hasilnya adalah sebuah anthem yang baru, segar, dan meledak, namun pada saat yang sama, memiliki elemen yang terasa akrab dan langsung menarik pendengar.
Sesuai dengan filosofi namanya, Headkloud harus bisa jadi wadah besar untuk menampung semua ide serta keresahan pikiran para personelnya. Oleh karena itu, mereka lantas memilih untuk segera membuat album sebagai target jangka panjang berikutnya.
“Judul albumnya pun sudah kami buat dengan tagline ‘civilphobia’. Progresnya sudah terkumpul delapan lagu demo, dan akan segera kami selesaikan tahun ini.”
Lewat “Lagu Anjing” yang diproduksi dan diedarkan via Burntheleaf Records, Headkloud yang memadukan agresivitas dengan lirik introspektif ingin terus memperkuat posisinya sebagai salah satu kekuatan baru yang paling menarik di kancah musik rock Indonesia.
Tonton video visualizer “Lagu Anjing” di tautan kanal YouTube ini. (mdy/MK01)