Integrality kembali hadir sebagai representasi ekspresi musikal yang keras, brutal, serta sarat dengan kritik sosial terhadap realitas kehidupan modern di karya rekaman terbarunya. Sebuah album mini (EP) bertajuk “Noetic Destruction”.
Di EP tersebut, unit cadas asal Cianjur, Jawa Barat bentukan 2023 lalu ini menunjukkan komitmen untuk terus menghadirkan konsep slamming death metal yang tidak hanya menitikberatkan pada kekuatan musikal, tetapi juga membawa pesan konseptual yang relevan dengan kondisi sosial saat ini.
Vokalis Iman Firmansyah (Jimen), gitaris Andi Sopiandi (Obih) dan Andi Robby, bassis Farhan Akbar serta dramer Moch Ilham Badrusalam (Iam) mengangkat tema kerusakan moral generasi remaja di era modern.
Sebuah isu yang dipandang sebagai dampak dari krisis nilai, degradasi etika, serta lemahnya kontrol diri akibat pengaruh lingkungan sosial dan perkembangan teknologi yang tidak seimbang.
Melalui lirik-lirik yang lugas, gelap, dan konfrontatif, Integrality menyuarakan keresahan terhadap menurunnya kesadaran moral dan intelektual generasi muda.

Monster Lokal
Dari sisi musikal, “Noetic Destruction” menyuguhkan karakter khas slamming death metal dengan riff gitar berat, struktur lagu agresif, tempo menghantam, serta vokal guttural yang merepresentasikan kemarahan dan kehancuran kesadaran yang menjadi benang merah konsep EP ini.
Setiap komposisi dirancang untuk memperkuat atmosfer brutal sekaligus menyampaikan pesan kritik sosial secara tegas.
“Integrality mempunyai musik yang berbeda menurut kami karena setiap riff slamming-nya diisi dengan part-part death metal, lalu diberi sentuhan breakdown dan bleast beat yang groove,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, menegaskan musiknya.
Ciri itu, sekaligus menghadirkan tantangan teknis dalam proses eksekusi rekamannya. Khususnya di komposisi yang dijadikan judul album. Alasannya, “Karena penyesuaian karakter vokal yang sebelumnya dengan yang baru.”
Maklum, mereka mengungkapkan bahwa perjalanan menuju perilisan “Noetic Destruction” tersebut sangat banyak mengalami jalan yang terjal dan ambigu.
“Kami harus menempuh posisi sulit yang tidak berlanjutnya (vokalis lama) dan menggantinya dengan vokalis baru, dengan warna baru menuju ‘Noetic Destruction’ ini. Proses ini dilakukan dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun di Hegemony Record.”
Dalam peracikannya, Integrality mengaku sedikit banyak mengulik ide-ide serta gagasan musikal dari band-band mengerikan dalam dan luar negeri macam Turbidity, Jasad, Sufism, Kaluman serta PeelingFlesh (AS), Extermination Dismemberment (Belarus) dan Engorging the Autopsy (Inggris).
Melalui perilisan ”Noetic Destruction”, Integrality berharap karya tersebut dapat menjadi medium refleksi sekaligus perlawanan terhadap normalisasi kerusakan moral, serta mempertegas eksistensi mereka dalam skena musik ekstrem Indonesia.
Sejak 9 Desember 2025 lalu, “Noetic Destruction” telah resmi dikobarkan via berbagai gerai digital. Keseluruhan album juga bisa didengarkan melalui tautan kanal YouTube ini. (mdy/MK01)