Third State kembali melepas karya baru, berupa lagu rilisan tunggal bertajuk “Grudge”. Sebelumnya, unit rock asal Bandung, Jawa Barat ini telah menggebrak lewat lagu berjudul “Possessive” pada 2 Agustus 2023 lalu.
Lewat “Grudge”, kali ini Third State meniupkan komposisi yang gelap dan sinematik.
Vokalis/bassis Luqman Hertanto Herman aka Herta Luqman, gitaris Ardy ‘Ardsumargono’ Sumargono, dramer Hasbi Fauzi Rohman serta gitaris Muhammad Fikriana Kandadiria (Popo) menyelami relung psikologis manusia yang paling kelam: sebuah dialog tak berujung dengan dendam yang merasuki jiwa.
“Lagu ini tentang bagaimana dendam bisa menjadi teman bicara yang paling setia sekaligus paling menghancurkan,” seru Popo, yang juga bertindak sebagai produser, penulis lagu, komposer sekaligus mengeksekusi pemolesan mixing dan mastering.
“Grudge” bukan sekadar lagu rock konvensional, melainkan sebuah ruminasi dan studi karakter. Liriknya memotret pergulatan batin seseorang yang terperangkap dalam kebencian yang mendalam, dimana dendam bukan lagi sekadar emosi, tetapi entitas yang bernapas dan bicara.
Thriller Noir
Eksperimen yang cukup ambisius, mendominasi “Grudge”. Sebuah amalgamasi antara intensitas musik heavy yang tak kenal ampun dengan keanggunan melankolis dari retro crooning era 50-an.
Meski secara fundamental “Grudge” adalah lagu rock, namun ‘landscape’ audionya menarik inspirasi kuat dari karya-karya komposer asal AS. Misalnya dari ketegangan psikologis Bernard Herrmann serta kedalaman atmosferik Angelo Badalamenti.
Menurut Third State, mereka ingin menggabungkan elemen vokal retro yang vulnerable dengan teror dari thriller noir.
“‘Grudge’ adalah lagu pertama dimana kami menantang diri kami untuk mencoba melakukan sintesa antara musik heavy rock dengan genre yang mungkin, atau biasanya tidak umum bersanding dengan musik keras,” tutur Third State kepada MUSIKERAS.
Dalam hal ini, lanjut mereka, yang menjadi inspirasi kuat di lagu tersebut adalah unsur retro pop crooning era 50-an. Tapi mereka tidak benar-benar meniru gaya crooning tadi secara mentah-mentah, namun banyak elemen di lagu “Grudge” yang sangat terinspirasi dari era tersebut.
Lalu mereka juga sedikit banyak menyerap inspirasi atau referensi kuat dari musik-musik film garapan Bernard Herrmann di film Taxi Driver (1976) dan Cape Fear (1962) serta Jerry Goldsmith di film Alien (1979) dan Chinatown (1974).
“(Referensi itu) yang membuat kami memutuskan untuk mencoba bereksperimen dengan menginkorporasikan Chamber Orchestra ke musik ini untuk menambah tekstur unik yang mustahil dilakukan apabila hanya mengandalkan instrumen rock konvensional.”

“Khususnya teknik-teknik Aleatoric yang menjadi ciri khas dari komposer-komposer tersebut.”
Untuk merealisasikan Chamber Orkestra, Third State dibantu oleh rekan-rekan mereka dari SQNX.
Mereka pun bereksperimen dengan Analog Vintage Synthesizers dan teknik sound design untuk menciptakan lapisan tambahan ke dalam musiknya, serta beberapa detail tersembunyi.
“Kami akui cukup kesulitan dalam prosesnya, karena elemen-elemen ini kerap bertarung antara satu sama lain dan enggan akur. Namun kami rasa, kami menemukan titik yang kompromi dimana seluruh elemen tersebut bisa bekerja sama.”
Meski terinspirasi dari musik era Crooning serta Classic Golden Age Film Scores, namun band ini tidak mematok musik-musik tersebut sebagai referensi absolut.
“Sebagai band rock, kami tentu menyisakan ruang untuk spontanitas dan influence setiap personel Third State sebagai entropi untuk masuk dan mengubah nuansa lagu secara organik.”
Apalagi, banyak referensi justru tidak berhenti di musik, namun melebar hingga ke film dan literatur.
Beberapa di antaranya datang dari novel Notes From Underground (1864) karangan penulis asal Rusia, Fyodor Dostoevsky serta film Pickpocket (1959) garapan sutradara berdarah Prancis, Robert Bresson.
Coffee Shop
Penggarapan produksi rekaman “Grudge” sendiri menghabiskan waktu sekitar 6-8 bulan. Sudah termasuk proses penulisan lagu, rekaman hingga pengerjaan produksi lainnya.
Sempat pula terjegal beberapa faktor seperti pergantian personel dalam tubuh Third State. Salah satunya dengan masuknya Ardsumargono yang menggantikan posisi Rangga Primawidya (Gaga) di lini gitar.
Dalam menjalani proses rekamannya, Third State mengakui berlangsung cukup fleksibel sekaligus unik atau tidak lazim. Mereka tidak berkumpul di studio rekaman, melainkan mengeksekusinya di berbagai tempat.
“Kami memanfaatkan tempat yang biasanya tidak lazim digunakan untuk rekaman. Mulai dari di coffee shop hingga di dalam mobil. Third State mendahulukan rock n’ roll mentality, vibe dan fun ketimbang proses rekaman yang klinis seperti band pada umumnya.”
“Grudge” yang diedarkan via Kilab Record telah diperdengarkan di berbagai gerai penyedia layanan musik digital sejak 12 Februari 2026 lalu. Di luar itu, Third State juga telah menyiapkan beberapa lagu susulan, dengan konsep dan identitasnya sendiri. (mdy/MK01)